Kepemimpinan Oct22

Tags

Related Posts

Share This

Kepemimpinan

I.         Definisi dan Arti Kepemimpinan

Definisi pertama menyatakan bahwa kepemimpinan itu sebagai suatu seni. Definisi dari Jhon Pfiffner “Kepemimpinan adalah seni untuk mengkoordinasikan dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan”

Definisi kedua menyatakan bahwa kepemimpinan itu sebagai suatu proses, definisi Dalton Mc Ferland “Kepemimpinan sebagai suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan memberikan perintah atau pengarahan bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memiliki dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

            Kepemimpinan adalah kunci dari manajemen. -leadership is the key to management -

Kepemimpinan mempunyai arti bila ditempatkan dalam bingkai: “untuk maksud dan dalam situasi apakah yang diharapkan dari kepemimpinan itu?. Artinya dalam suatu kelompok masyarakat, apakah yang diharapkan dari pemimpin itu?”

hal itu mengartikan baik langsung atau tidak langsung pemimpin itu dipilih oleh kelompok masyarakat itu sendiri, apakah kelompok masyarakat itu negara, apakah kelompok masyarakat itu niaga/industri, apakah kelompok masyarakat itu politik, apakah kelompok masyarakat itu pegawai negeri/militer. Yang jelas bahwa masyarakat yang sehat akan memilih pemimpin yang sehat dan masyarakat yang tidak sehat akan memilih pemimpin yang tidak sehat. Pemimpin adalah orang yang  menggambarkan kehendak yang sesungguhnya dari kelompok.

“Konsistensi seorang pemimpin tergantung pada ruang dan waktunya, seorang pemimpin harus mempunyai keberanian dan kepekaan terhadap suatu permasalahan serta mempunyai keakuratan yang tinggi dalam pengambilan keputusan kala situasi sangat sulit dan kritis.”

II.    Teori Kepemimpinan

1.       Teori keturunan

Teori ini berpangkal pada suatu ajaran bahwa bakat kepemimpinan itu telah ada sejak ia dilahirkan sebagaimana pendapat bahwa “kepemimpinan tidak dapat dibentuk, tetapi dilahirkan”.

Ajaran ini berpendapat bahwa orang yang dilahirkan menjadi pemimpin ini telah mempunyai bakat yang terdapat pada pribadinya, mentalnya, bahkan fisiknya. Dalam keadaan ini ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin dan kelak keturunannya akan timbul pula sebagai pemimpin

2.       Teori kejiwaan

Teori ini berangkat dari suatu ajaran bahwa bakat kepemimpinan seseorang dapat dibentuk sesuai dengan jiwa seseorang. Oleh karena itu ajaran ini tidak sependapat dengan teori keturunan, karena teori ini berpendapat bahwa kepemimpinan dapat dibentuk, bukan karena dilahirkan.  Berdasarkan atas teori kejiwaan ini seseorang dapat menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3.       Teori lingkungan

Teori ini dipelajari karena pada umumnya mereka tidak puas dengan kedua teori tersebut di atas. Ajaran dari teori lingkungan ini berpangkal pada suatu pendapoat bahwa pemimpin adalah hasil dari pada lingkungannya. Sejumlah penelitian telah menyimpulkan suatu premis bahwa kepemimpinan banyak dipengaruhi oleh suatu lingkungan, dimana pemimpin itu timbul karena ia melakukan kegiatan dalam lingkungannya.

Timbulnya kepemimpinan itu disebabkan karena terdapat bakat-bakat kepemimpinan, pendidikan dan pengalaman.

Berdasrkan atas uraian tersebut jelaslah abahwa teori lingkungan ini merupakan sintesa dari ajaran teori keturunan yang menitikberatkan pada bakat kepemimpinan dan ajaran teori kejiwaan, dimana seseorang dapat menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang memadai.

III.    Perbedaan dan Arti Kepemimpinan

Dari penjelasan teori – teori di atas maka kepemimpinan dibedakan atas :

1.       Pemimpin berdasarkan atas keturunan

Sampai saat ini, masih terdapat masyarakat yang mengakui adanya pemimpin yang diperoleh karena keturunan atau warisan orangtuanya. Pemimpin ini bersifat turun temurun.

Pada mulanya pemimpin yang demikian ini merupakan penghargaan atas jasa–jasanya karena telah berhasil atas kepemimpinannya. Sebagai pengharagaan atas diri dan keluarganya maka oleh masyarakatnya diakui bahwa keturunannya pun menjadi pemimpin mereka. Hal in dapat dilihat pada negara – negara kerajaan baik pada negara yang telah modern maupun primitif, mulai dari sebutan kepala suku atau kepala adat sampai Raja.

2.       Pemimpin berdasarkan atas pemilihan

Dalam masyarakat demokrasi, pemimpin dipilih dari masyarakat itu sendiri. Pemimpin itu mendapat kepercayaan dari anggotanya bahkan ia bekerja demi kepentingan anggotanya. Apabila ia tidak berhasil melakukan pekerjaan sesuai dengan kepentingan anggotanya pemimpin itu dapat diganti dengan pemimpin pengganti yang lain secara pemilihan.

3.       Pemimpin atas dasar penunjukkan

Pemimpin atas dasar penunjukan ialah karena ia ditunjuk untuk memimpin suatu kelompok kegiatan tertentu oleh pejabat yang mempunyai kewenangan yang lebih tinggi berdasarkan atas peraturan perundangan yang berlaku, yang mempunyai kekuatan yuridis formal. Pejabat yang ditunjuk berdasarkan atas kewenangan tersebut disebut kepala. Kepala ini dibantu oleh sekelompok orang yang disebut bawahan.

IV.    Fungsi dan Kecakapan Kepemimpinan

Sebuah sintesa dari berbagai fungsi dan kecakapan kepemimpinan sebagai berikut “kecakapan yang pokok daripada kepemimpinan administratif dapat dibedakan kedalam 3 bagian yaitu :

1.         Kecakapan Konsepsional

Kemampuan mengetahui kebijaksanaan organisasi secara keseluruhan. Sekalipun adanya fungsi yang berdiri sendiri tetapi kenyataan bahwa perubahan pada setiap bagian akan mempengaruhi terhadap keseluruhan. Hal ini dapat digambarkan bahwa hubungan itu menyangkut program–program dibidang politik, sosial, ekonomi. Kecakapan konsepsional ini akan bertambah penting terutama pada puncak pimpinan (top management level)

2.         Kecakapan Kemanusiaan

Kecakapan kemanusiaan ini adalah kemampuan utuk bekerja di dalam kelompok atau dengan kelompok. Hal ini dimasksudkan untuk membangun suatu usaha koordinasi dalam suatu tim, dimana ia bertindak sebagai pemimpin.

3.         Kecakapan Teknis

Kecakapan teknis ini penting bagi pemimpin tingkat menengah (middle managemant level) dan pemimpin tingkat bawah (supervisory or lower managemant) dimana hubungan antara pemimpin dan anggota sangat dekat.

Dalam kecakapan ini termasuk kegiatan–kegiatan menggunakan metode proses,  prosedur dan teknik, yang pada umumnya berhubungan dengan alat – alat bukan orang.

Kecakapan teknis ini penting pada pemimpin tingkat bawah dan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali pada pemimpin tingkat atas.

Sesuai dengan pendapat–pendapat tersebut fungsi dan kecakapan kepemimpinan dapat dibedakan antara lain sebagai berikut :

Mengetahui bidang tugasnya

Sesuai dengan tingkatannya pemimpin harus mengetahui bidang tugasnya masing–masing. Misalnya pemimpin tingkat atas harus mengetahui kebijaksanaan yang telah digariskan dalam percapaian tujuan oragnisasi (conceptula skill)  sedangkan pemimpin tingkat bawah yang diperlukan ialah teknik pelaksanaan pekerjaan (technical skill)

Peka dan tanggap terhadap keadaan lingkungannya

Pemimpin harus peka terhadap situasi kondisi setempat. Misalnya : keadaan anggotanya, peralatan kerja, prasarana kerja, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat berserta permasalahannya.

Melakukan hubungan antar manusia yang baik

Sebagaimana diketahui bahwa unsur manusia adalah yang menentukan berhasilnya pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu perlu dibina hubungan antar manusia yang sebaik–baiknya, sehingga merupakan suatu tim yang dapat bekerja sama dengan penuh kesadaran diantara mereka, tanpa ada suatu paksaan apapun.

Mampu melakukan hubungan kerja (komunikasi) denga baik kedalam maupun keluar

Oleh karena setiap pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan sendiri–sendiri tanpa kerjasama dengan orang lain, maka diperlukan hubungan kerja, baik didalam organisasinya maupun diluar organisasinya. Hal ini diperlukan kemampuan pemimpin untuk mengadakan pendekatan baik yang bersifat interdisipliner, multifungsi, maupun yang bersifat lintas sektoral.

Mampu melakukan koordinasi

Dalam suatu organisasi yang kompleks, dimana banyak terdapat pengkhususan dari berbagai kegiatan pekerjaan, maka diperlukan pimpinan untuk mengkoordinasikan berbagai kegiatan itu agar tercapai adanya kesatuan usaha atau tindak dalam mencapai tujuan organisasi.

Mampu mengambil keputusan

Segala macam masalah yang dihadapi oleh organisasi perlu diselesaikan secara cepat dan tepat. Bila tidak ada keputusan berarti akan menghambat pelaksanaan pekerjaan organisasi itu. Oleh karena itu diperlukan pempinan yang mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat agar tidak menghambat pelaksanaan organisasi.

Mampu mengadakan hubungan masyarakat

Pemimpin harus mampu memberikan informasi dan meyakinkan masyarakat diluar organisasinya. Informasi ini perlu diberikan kepadamasyarakat, agar tugas pekerjaannya mendapat bantuan atau dukungan dari masyarakat.

V.       Kewenangan dan Kepemimpinan (authority and leadership)

Kewenangan dari pimpinan dapat hilang apabila pimpinan tidak bisa melakukan penyesuaian dengan para anggotanya, untuk itu  suatu kerjasama (teamwork) antara pimpinan dan anggota adalah mutlak.

Kepemimpinan dan kewenangan bukan merupakan pengertian tunggal (single) tetapi jamak (plural). Karena menyangkut banyak orang dalam organisasi. Kewenangan (authority) bukan kedudukan (position), bukan suatu hak yang legal (menurut hukum) dan juga bukan sekedar mengepalai orang – orang ataupun mengeluarkan perintah.

Kewenangan (authority) adalah “usaha mempengaruhi anggota yang merupakan suatu integrasi atas dasar konsensus secara sukarela”. Apabila anggota diberi pengertian dengan kenyataan – kenyataan yang ada dan diajak bicara bersama  – sama dalam suatu situasi yang baik, tidak perlu perintah selalu diberikan, tetapi dengan memberikan suatu prosedur kerja yang baik adalah lebih efektif daripada selalu mengeluarkan perintah”. Kewenangan tidak hanya meletakkkan asas – asas hubungan antar manusia (human relation) dalam administrasi atau management, tetapi juga dinamika daripada kelompok pekerjaan dan teknik daripada hubungan organisasi modern.

Kewenangan terletak pada persetujuan yang mempunyai daya kekuatan (potentiality of assent)  yang tersebar luas dan berwujud kesetiaan, kesadaran anggota tentang tujuan bersama dari organisasi.

Kesimpulannya adalah pemimpin harus dapat membina kerja sama yang sebaik – baiknya, menyelenggarakan hubungan – hubungan yang tidak resmi diantara anggota, meyelenggarakan prosedur kerja, pembagian kerja dan pendelegasian wewenang dengan tanggung jawab yang sebaik – baiknya (decission of work, delegation of authority with responsibility).

VI.    Kepemimpinan dalam Management

1.      Kepemimpinan Administratif dan Kepemimpinan Management (administrative and managerial leadership)

Pemimpin tidak sinonim dengan kemampuan administratif, sebagai pemimpin administratif ia mempunyai kemampuan sebagai administrator dalam arti dapat menyelesaikan tugas–tugas pekerjaannya secara rasional, tetapi sebagai pemimpin mungkin kekurangan dalam menciptakan ide–ide baru. Kepemimpinan pada umumnya mempunyai kemampuan bakat untuk mempersatukan orang–orang dalam organisasi, mempunyai daya kreasi, mempunyai inovasi

Sekalipun pemimpin itu tidak sinonim dengan kemampuan administratif, tapi diharapkan jiwa kepemimpinannya dapat berada  dalam bidang administratif untuk mensukseskan tercapainya tujuan, dengan inisiatif atau kreasi–kreasi baru dan penemuan baru seperti halnya pemimpin pada umumnya

Disamping itu masih terdapat apa yang dinamakan kepemimpinan management yaitu pemimpin yang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan tercapainya tujuan dalam arti pelaksanaan yang bersifat teknis operasional.

2.      Kepemimpinan Birokrasi (bureaucratic leadership)

Kepemimpinan organisasi dalam bidang pemerintahan yang dinamaakan birokrasi. Bentuk ini sebenarnya tidak hanya terdapat dalam pemerintahan saja, tetapi juga dalam organisasi umum.

Birokrasi bukanlah penghambat atau penghalang melainkan suatu usaha untuk melaksanakan peraturan–peraturan yang telah ditetapkan agar dianut dan dipatuhi oleh anggota sebagai usaha untuk mengatur ketertiban dalam bidang administrasi.

Dengan demikian kepemimpinan birokrasi diartikan sebagai kepemimpinan yang tunduk dan taat terhadap peraturan – peraturan yang telah ditentukan.

3.      Kepemimpinan Organisasi dan Kepemimpinan Pribadi

Kewenangan selalu ada dalam suatu organisasi maupun dalam pribadi orangnya. Yang dimaksud dengan kepemimpinan organisasi adalah manifestasi daripada jabatan yang dibentuk dalam suatu organisasi. Sedangkan kepemimpinan pribadi (personal leadership) adalah sifat khusus daripada orang yang menduduki jabatan dalam organisai itu.

Seperti halnya kepemimpinan organisasi dapat disamakan dengan kepemimpinan yang bersifat formal sedangkan kepemimpinan pribadi dapat disamakan dengan kepemimpinan yang bersifat informal.

4.      Kepemimpinan Formal dan tidak Formal

Kepemimpinan yang bersifat formal dimaksudkan orang yang ditunjuk dalam suatu jabatan organisasi formal, dengan sistem hierarkhi termasuk dengan tugas, susunan dan wewenangnya yang telah ditentukan. Oleh karena itu ia menduduki jabatan tertentu maka ia melakukan pelimpahan wewenang (delegation of authority) dalam organisasi itu. Disamping itu ia dapat memberikan perintah, membuat keputusan, menentukan kebijaksanaan, menetapkan hubungan dan sebagainya yang mempunyai pengaruh terhadap kegiatan kegiatan orang – orang yang terdapat dalam organisasi itu.

Kepemimpinan yang informal adalah orang yang mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku orang lain di dalam kelompok organisasi formal. Orang yang dianggap sebagai pemimpin tidak formal ini, kedudukannya dalam organisasi formal mungkin sebagai anggota biasa, atau mungkin halnya sebagai pemimpin rendahan. Pemimpin yang bersifat informal dapat mempunyai pengaruh yang baik terhadap kegiatan individu maupun kelompok dalam organisasi yang formal, tetapi juga sebaliknya dapat juga menghalangi kegiatan individu maupun kelompok sebagai suatu keseluruhan dalam organisasi yang formal itu. Oleh karena pemimpin yang tidak formal mempunyai pengaruh yang besar terhadap pengikutnya, maka pemimpin yang bersifat formal itu harus memperhatikan atau memperhitungkan terhadap mereka, agar tidak tercipta hambatan .

VII.     Syarat –syarat, sifat –sifat, Asas – Asas dan Prinsip – Prinsip Kepemimpinan

1.      Syarat – syarat Pemimpin dan Kepemimpinan

Syarat minimal

1)      Watak yang baik (karakter, budi, moral)

2)      Inteligensia yang tinggi

3)      Kesiapan lahir dan batin

Syarat lain yang diperlukan

1)      Sadar akan tanggung jawab

2)      Memiliki sifat–sifat kepemimpinan yang menonjol

3)      Membimbing dirinya dengan asas dan prinsip–prinsip kepemimpinan

4)      Melaksanakan kegiatan–kegiatan dan perintah dengan penuh tanggung jawab, serta mampu membimbing anggotanya dengan baik dan menggemblengnya menjadi suatu kesatuan yang efektif

5)      Mengenal anggotanya, memahami sepenuhnya akan sifat dan tingkah laku masing–masing dalam segala macam keadaaan, suasana dan pengaruh

6)      Paham akan cara bagaimana seharusnya mengukur dan menilai kepemimpinannnya

2.      Sifat–sifat Kepemimpinan

a. Jujur : Merupakan perpaduan daripada keteguhan watak sehat dalam prinsip – prinsip moral, tabiat suka akan kebenaran, tulus hati dan perasaan halus mengenai etika keadilan dan kebenaran

b. Berpengetahuan : Adalah totalitas daripada kecerdasan dan pengertian luas yang diperoleh dengan belajar terus menerus

c. Berani (fisik dan mental) : Keberanian merupakan suatu tingkatan mental yang mengakui adanya ketakutan  atau kekhawatiran terhadap bahaya – bahaya atau kemungkinan – kemungkina celaan.

d.Mampu mengambil keputusan : Adalah kecakapan untuk memecahkan persoalan dengan cepat dan tepat serta menyatakan pendapatnya mengenai tindakan–tindakan yang harus dilaksanakan secara tepat pula.

e. Dapat dipercaya : Merupakan jaminan kepastian pelaksanaan kewajiban dengan setepat–tepatnya.

f. Berinisiatif : adalah tindakan yang sehat dan tepat yang dilakukan atas dasar pemikiran sendiri pada waktu tidak ada perintah–perintah tentang bagaimana mengatasi kesukaran atau petunjuk – petunjuk dari atasan.

g. Bijaksana : Merupakan tindakan dan sikap yang menggambarkan pengertian yang sehat dan tepat mengenai jiwa seseorang.

h. Tegas : Ketegasan merupakan kemampuan mengambil keputusan atau tindakan yang tepat, yang didasarkan kepada keyakinan, bahwa keputusan atau tindakan itu akan membawa keuntungan dalam kepentingan atau pelaksanaan tugas.

i. Adil : adalah kualitas keadaan tidak berat sebelah dan keteguhan dalam pelaksanaan pimpinan

j. Menjadi teladan : Merupakan sifat yang paling utama dalam kepemimpinan. Teladan berarti dapat menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, sesuai norma – norma kepribadian bangsa pada umumnya.

k. Tahan uji (ulet) : adalah stamina mental dan fisik dari kemampuan seseorang untuk bertahan terhadap sakit , lelah, putus asa dan kesukaran atau kemalangan.

l. Loyalitas :adalah kualitas kesetiaan seseorang terhadap negara, bangsa dan tanah air, terhadap tugas, kesatuan, atasan dan bawahannya.

m. Tidak mementingkan diri sendiri : adalah menghindarkan diri dari terpenuhinya kebutuhan dan kemajuan serta kesenangan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.

n. Antusias : adalah cara menunjukkan adan memperlihatkan perhatian yang tulus iklas dan mengembirakan serta memberi semangat berkobar–kobar dalam pelaksanaan kewajiban.

o. Simpatik : Berarti mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang sopan serta dapat menghargai setiap anggota bawahannya.

p. Rendah hati : adalah menunjukkan sikap yang menghargai pada setiap orang yang dihadapi, tanpa menghilangkan atau merendahkan kedudukan yang dimiliki.

3.      Asas – asas

  • Taqwa : beriman dan taat kepada Tuhan yang Maha Esa
  • Memberi / menjadi teladan dihadapan anggotanya
  • Dapat mengunggah dan membangkitkan semangat di tengah – tengah anggotanya
  • Dapat mempengaruhi dan memberikan semangat dari belakang kepada anggota
  • Selalu waspada serta sanggup dan berani memberi koreksi kepada anggota
  • Dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan
  • Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih – lebihan.
  • Sikap loyal yang timbal balik dari atasan terhadap bawahan, bawahan terhadap atasan dan kesamping
  • Kemauan, kerelaan dan keberanian untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar – benar diperlukan.
  • Kesadaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar – banar diperlukan.
  • Kemauan dan kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukan kepada generasi berikutnya.

4.      Prinsip – prinsip Kepemimpinan

  • Mahir dalam soal–soal teknis dan taktis
  • Mengetahui diri sendiri, cari dan usahakan selalu perbaikan – perbaikan
  • Yakinkan diri, bahwa tugas–tugas dimengerti, diawasi dan dijalankan
  • Mengetahui anggota – anggota bawahan dan juga serta pelihara kesejahteraan mereka
  • Uasahakan dan pelihara selalu, agar anggota mendapatkan keterangan–keterangan yang diperlukan
  • Berilah teladan dan contoh yang baik
  • Tumbuhkan rasa tanggung jawab dikalangan anggota
  • Latih anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak
  • Buat keputusan–keputusan yang sehat dan pada waktunya
  • Memberi tugas dan pekerjaan pimpinan (komando) sesuai dengan kemampuan
  • Bertanggung jawab terhadap tindakan–tindakan yang dilakukan

Prinsip–prinsip kepemimpinan tersebut seperti halnya asas–asas kepemimpinan, merupakan petunjuk–petunjuk yang harus dipadankan oleh seorang pemimpin di dalam melaksanakan operasional kepemimpinannya. Oleh karena itu memahami dan mempraktekkan prinsip–prinsip tersebut bisa diasumsikan merupakan suatu keharusan.

Namun demikian, hasil kepemimpinan seseorang tidaklah semata–mata tergantung pada kemahiran menggunakan asas – asas dan prinsip – prinsip kepemimpinan saja, melainkan masih banyak faktor–faktor lainnya yang mempengaruhi, maka perlu dan penting diperhatikan adalah penalaran keadaan yang tepat, sehingga dapat menentukan tindakan-tindakan kepemimpinan yang tepat terhadap situasi dan kondisi yang tepat pula.

Prinsip–prinsip kepemimpinan sebagaimana di sebutkan di atas berlaku dan dapat diterapkan terhadap tingkatan pimpinan ataupun organsasi/kesatuan. Dengan sendirinya didalam mempraktekkannya tingkat pimpinan atau pun besarnya kesatuan yang dipimpinnya itu merupakan salah satu faktor pula yang perlu diperhatikan.

VIII.       Tipe – Tipe Pemimpin

1.      Tipe Otokratis

Seorang pemimpin yang otokratis ialah seorang pemimpin yang  :

Menganggap organisasi sebagai milik pribadi

  • Mengidentikkan tujan pribadi dengan tujuan organisasi
  • Menganggap anggota sebagai alat semata–mata
  • Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
  • Terlalu bergantung pada kekuasaan formalnya
  • Dalam tindakan penggerakanya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan

Dari tipe–tipe diatas jelas terlihat bahwa tipe pemimpin yang demikian tidak tepat untuk suatu organisasi modern dimana hak–hak asasi manusia yang menjadi bawahan itu harus dihormati.

2.      Tipe Militeristis

Tipe pemimpin militeristis berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Tipe pemimpin ini mempunyai sifat – sifat sebagai berikut :

  • Dalam menggerakkan bawahan sistem perintah lebih sering dipergunakan
  • Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya
  • Senang kepada formalitas yang berlebih – lebihan
  • Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
  • Sukar menerima kritikan dari bawahannya
  • Menggemari upacara – upacara untuk berbagai keadaan

Terlihat pula sifat – sifat terebut bahwa seorang pemimpin yang militeristis bukanlah seorang pemimpin yang ideal

3.      Tipe Paternalistis

Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang

  • Menganggap bawahannya sebagai yang tidak dewasa
  • Bersikap terlalu melindungi (over protective)
  • Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan
  • Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif
  • Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya
  • Sering bersikap maha tahu

Harus diketahui bahwa untuk keadaan tertentu seorang pemimpin yang demikian sangat dipahami akan tetapi sifat – sifatnya yang negatif mengalahkan sifatnya yang positif.

4.      Tipe Kharismatis

Hingga saat ini belum ditemukan secara pasti sebab–sebab mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.

Karena kurangnya pengetahuan sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang kharismatik maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi kekuatan ghaib (supernatural process), kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak digunakan sebagai kriteria untuk kharisma.

5.      Tipe Demokratis

Tipe pemimpin demokratis paling tepat untuk organisasi modern karena :

  • Dalam proses penggerakan  bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia
  • Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi senga tujuan pribadi dari para bawahannya
  • Ia sering menerima saran, pendapat dan bahkan krtik – kritik dari anggotanya
  • Selalu berusaha mengutamakan tujuan dan team work dalam usaha mencapai tujuan.
  • Dengan ikhlas memberi kebebasan yang seluas – luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan dan kemudian di banding dan diperbaiki agar bawahannya itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama akan tetapi lebih berani untuk membuat kesalahan yang lain.
  • Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya
  • Berusaha mengembangkan kapasitas untuk menjadi pemimpin yang demokratis.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai. Akan tetapi karena pemimpin yang demikianlah yang paling ideal, alangkah baiknnya jika semua pemimpin berusaha menjadi pemimpin yang demokratis.

IX.    Konsep Tipe Kepemimpinan

Konsep – konsep kepemimpinan dibagi menjadi tiga golongan besar antara lain :

1. Tipe pemimpin otokratis yang mendasarkan atas kekuasaan pada tangan seseorang

Pimpinan yang bersifat otokratis memperlihatkan ciri–ciri / sifat–sifat sebagai berikut :

  • Memberikan perintah–perintah yang harus selalu diikuti, meneruskan kebijaksanaan kelompok masyarakatnya tanpa sepengetahuan / konsultasi dengan mereka
  • Tidak memberikan penjelasan secara terperinci (detailed) tentang rencana yang akan datang, tetapi sekedar hanya mengatakan kepada anggotaya langkah – langkah yang mereka harus lakukan dan segera dijalankan.
  • Memberikan pujian bagi mereka yang selalu menurut kehendaknya dan melontarkan kritik kepada mereka yang tidak mau mengikuti kehendaknya
  • Ia selalu jauh dengan anggotanya sepanjang masa.

2.      Tipe pemimpin demokratis

  • Hanya memberikan perintah setelah mengadakan konsultasi dahulu dengan kelompok masyarakatnya
  • Mengetahui bahwa kebijaksanaannya hanya dapat dilakukan setelah dibicarakan dan diterima oleh kelompok masyarakatnya
  • Tidak akan meminta anggota–anggota masyarakatnya mengerjakan sesuatu tanpa terlebih dahulu memberitahukan rencananya yang akan mereka lakukan
  • Baik atau buruk benar atau salah adalah persoalan kelompoknya, dimana masing–masing ikut serta bertanggung jawab sebagai anggota dari pada kelompok

3.  Tipe pemimpin Liberal (laissez – faire)

Yaitu kebebasan tanpa pengendalian. Pemimpin disini tidak pernah memimpin/ mengendalikan bawahan sepenuhnya. Ia sendiri tidak pernah ikut serta dengan bawahannya seolah–olah tanpa ikatan antara pemimpin dan bawahannya.

Dari ketiga golongan tipe pemimpin diatas dapat diperinci dalam beberapa bagian sebagai berikut :

1.      Pemimpin yang bersifat otokratis (uatocratic leader)

a.      Tipe otokrat yang kaku/rigid (strid authocrat)

Sifat kekakuan itu karena menurut pendapat/prinsipnya bahwa usahanya itu atas dasar perasaan tanggung jawab seseorang (a one man show), oleh karena itu ia tidak melimpahkan wewenangnya kepada bawahannya. Ia bertindak atas prinsip”business is business” yang dikehendakinya adalah keuntungan pribadinya. Dikatakan orang yang tidak bekerja tidak dibayar dan selalu berpedoman “time is money”. Pemimpin seperti ini biasanya terdapat pada bidang niaga atau industri, yang pada umumnya sifat yang demikian ini dapat berhasil (success) sekalipun dengan perngorbanan unsur – unsur kemanusiaan

b.      Tipe otokrat yang berkemauan baik (the benevolent authocrat)

Pemimpin yang bersifat demikian ia merasa bahwa ia mempunyai tanggung jawab moral kepada bawahannya, yang seolah–olah ia melakukan sesuatu yang baik. Ia menghendaki agar bawahannya melakukan pekerjaan dengan sebaik – baiknya, bukan dalam arti apa yang ia kehendaki dan inginkan.

Tidak ada pertimbangan soal–soal material yang dapat memberikan keuntungan atau kerugian, tetapi yang penting bawahan akan mendapatkan apa yang mereka peroleh dan dikehendakinya. Kepentingan bawahan walau bagaimanapun tidak mendapat penghargaan/penilaian

c.       Tipe otokratis yang belum mampu (the incomponent authocrat)

Sifat–sifat pemimpin yang demikian itu dapat disamakan dengan apa yang disebut menagement kenak – kanakan (baby in management) yang artinya banyak tingkah tetapi tingkah lakunya karena eksentriknya.

Penilaian baik dan buruk bersifat subjektif karena tergantung seluruhnya pada perasaannya.

Ia merasa seorang yang berwenang/berkuasa, tetapi selalu kuatir karena perasaannya itu. Kenyataannya apabila ia memberikan perintah selalu diliputi perasaaan kuatir, apakah perintahnya dijalankan atau tidak

Tipe pemimpin ini tidak termasuk seorang yang kuat, tetapi lemah mentalnya, sehingga ia selalu mengeluh ketidakpuasan dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diberikan kepercayaan atau tanggung jawab.

Tidak seperti halnya tipe otokrasi lainnya yang mempunyai prinsip/pegangan/kesadaran tertentu, tipe ini tidak mempunyai prinsip/pegangan/kesadaran dalam memberikan pimpinan. Oleh karena itu ia mencari daya upaya apapun asal tujuannya tercapai, misalnya membohong, mengadu domba antara bawahan, dan sebagainya yang akibatnya bawahannya selalu takut, kuatir dan korban perasaan.

2.      Pemimpin yang bersifat demokratis (democratic leader)

a.      Tipe democratic murni (the genuine democratic)

Berlainan dengan tipe demokrasi mendasarkan atas kekuasaan seseorang , tipe ini melakukan pimpinan pekerjaan atas kehendak yang diinginkan bersama dengan bawahannya. Ia menyadari bahwa pekerjaan bukanlah tanggung jawab seorang pemimpin saja, oleh karena itu ia melimpahkan wewenangnya kepada semua tingkat pimpinan sampai tingkat terbawah sekalipun.

Bawahan mengetahui apa yang harus mereka kerjakan atas dasar kesadarannya, dengan tanpa keragu – raguan mereka melakukan perkerjaan sebaik – baiknya, sekalipun pemimpin itu tidak ada ditempat. Hal ini adalah cukup menjamin bagi bawahan yang tidak selalu melaporkan kepada atasan apakah perkerjaan yang mereka kerjakan mendapat persetujuan atau tidak.

b.      Tipe demokratis semu (the pseudo democratic)

Tipe pemimpin seperti ini tidak banyak yang berbeda dengan tipe pemimpin yan gdisebut manajement kekanak – kanakkan, hanya bedanya tipe ini mempunyai sifat selalu adanya kekuatiran bahwa pekerjaan akan salah (penitence), penuh emosi sehingga mudah tersinggung (sentimental) dan kadang – kadang mempunyai kegembiraan yang tanpa batas seperti orang mabok (convivial).

     Ia selalu berusaha menanamkan pengertian seolah–olah rasa kesatuan diantara mereka seperti “saudara – saudara kita bersama adalah satu keluarga, kita bersama adalah senasib sepenanggungan” dan sebagainya.

3.      Pemimpin yang bersifat liberal (laissez faire type of leader)

Liberal (laissez faire) artinya bebas tanpa ikatan. Pemimpin yang mempunyai sifat – sifat liberal ini adalah pemimpin yang kurang bertanggung jawan pada kelompoknya. Bahwasannya (kelompoknya) dibiarkan berbuat sekehendaknya, tanpa adanya pengawasan/pengendalian. Segala sesuatu dipercayakan kepada bawahannya, karena alasan kesibukannya. Akibatnya pekerjaan anggotanya kurang terarah, simpang siur, karena tanpa adanya pengarahan dan bimbingan.

X.       Teori dan Konsep Kepemimpinan

Teori kontigensi daripada kepemimpinan menurut Fiedler (contigency theory of leadership)

Teori kontigensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung situasi dan tugas kelompok (group task situation) dan tingkat – tingkat dari pada gaya kepemimpinannya.

Dengan perkataan lain, seorang menjadi pemimpin bukan karena sifat–sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor situasi dan adanya interaksi antara pemimpin dan situasinya.

Dimensi– dimensi kritis daripada situasi kepemimpinan

Sebagai landasan studinya, menemukan 3 (tiga) dimensi kritis dari pada lingkungan yang mempengaruhi gaya pemimpin yang sangat efektif itu, yaitu :

a.      Kekuasaan atas dasar kedudukan/ jabatan (position power)

Kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis atau keahlian (ekspertise power).

Berdasarkan atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota–anggota kelompoknya yang dapat diperintah/dipimpin, karena ia bertindak sebagai manajer, dimana kekuasaan diperoleh atas kewenangan organisasi (organizational authority).

Dalam hubungan ini bahwa seorang pemimpin yang mempunyai kekuasaan atas dasar kedudukan atau jabatan yang jelas, akan lebih mudah memperoleh pengikut yang lebih baik dibandingkan dengan seorang pemimpin tanpa sesuatu kekuasaan apa–apa.

b.      Struktur tugas (task structure)

Pada dimensi ini bahwa selama tugas–tugas dapat diperinci secara jelas dan orang–orang diserahi tanggung jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi di mana  tugas–tugas itu tidak tersusun (unstructure) dan tidak jelas. Apabila tugas – tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan dan anggota–anggota kelompok dapat lebih jelas pertanggung jawabannya dalam pelaksanaan kerja, dari pada apabila tugas–tugas itu tidak jelas/kabur.

c.       Hubungan pemimpin dengan anggota kelompok

Dalam dimensi ini sangat penting dilihat dari sudut pandangan seseorang pemimpin, apabila kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara luas dalam suatu organisasi dan selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap pemimpin dan suka mengikuti pemimpinnya

2.      Sistem manajemen daripada Rensis Likert

Likert telah menggambarkan suatu konsep tertentu dan pentingnya pendekatan untuk mengartikan perilaku kepemimpinan (leadership behavior) ia mengenalkan konsepsinya yang disebut management partisipasi (participate management). Dalam garis besar daripada hasil penelitinnya dan untuk kejelasan daripada konsepsinya, Likert menganggap adanya empat sistem dalam manajemen

Sistem 1

Management dilukiskan sebagai expliotive–authoratative artinya kewenangan yang bersifat eksploitif atau kewenangan mutlak. Dalam sistem manajemen semacam ini para pemimpin bersifat otokratis yang artinya mendasarkan atas kehendak atau kemauan sendiri.

Oleh karena itu ,pimpinan yang seperti ini kurang mempercayai bawahannya. Ia memberikan motivasi terhadap bawahannya melalui ancaman dan hukuman disertai kadang–kadang pemberian penghargaan. Suka melakukan komunikasi dari atas ke bawah dan membatasi pengambilan keputusan hanya pada tingkat pimpinan atas dan sering memperlihatkan ciri–ciri semacam itu

Sistem 2

Manajemen itu disebut benevolent authoritative, manajemen ini berlainan denga yang pertama. Manajemen yang kedua ini didasarkan kewenangan menurut kebaikan hati. Maksud kewenangan benvolent ini pimpinan ingin berbuat baik terhadap bawahannya, oleh karena itu para manajer memberikan kebebasan kepada bawahannya dan menyerahkan kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahannya, dengan memberikan notifikasi berupa penghargaan (award) dan kadang – kadang sekedar ancaman atau hukuman. Ia memberikan keleluasaan untuk melakuakn komunikasi dari bawah ke atas dengan meminta ide dan pendapat dari bawahannya, dan melimpahkan pengambilan keputusan oleh bawahannya tetapi dengan pengawasan kebijaksanaan yang ketat.

Sistem 3

Manajemen dikenal sebagai yang sangat partisipatif dari seluruh sistem ini dikenal sebagai participle group atau kelompok partisipatif. Dalam sistem ke tiga ini para manajer mempunyai kepercayaan sepenuhnya dalam semua hal / masalah kepada bawahannya dan mempergunakan secara konstruktif terhadap mereka. Memberikan penghargaan yang bernilai ekonomis berdasarkan atas partisipasi kelompok dan melibatkan dalam bermacam–macam bidang, misalnya penentuan sasaran dan penilaian kemampuan terhadap sasaran. Melakukan banyak komunikasi baik ke bawah maupun ke atas. Mendorong melakukan pengambilan keputusan melalui seluruh jaringan organisasi dan disamping itu mendorong melakukan kegiatan diantara mereka dengan bawahannya sebagai suatu kelompok

Sistem 4

Pada sistem ke empat ini manajemen diartikan sebagai suatu consultative atau konsultative. Para pemimpin ini pada hakekatnya tidak mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan. Biasanya para pemimpin mencobanya untuk mempergunakan ide – ide dan pendapat – pendapat anggotanya secara konstruktif (bersifat membangun).

Mempergunakan motivasi terhadap anggotanya dengan suatu penghargaan, kadang – kadang hukuman dan kadang – kadang partisipasi, melakukan kebijaksanaan yang lebih luas, pengambilan keputusan terhadap hal – hal yang bersifat umum dilakukan oleh pimpinan tingkat atas sedangkan hal – hal yang bersifat khusus diserahkan kepada pimpinan tingkat bawah dan melakukan konsultasi dalam hal – hal yang lain bila diperlukan.

Pada umumnya Likert mengemukakan bahwa pada pimpinan yang menerapkan pendekatan dengan sistem ke tiga terhadap kegiatannya lebih memperoleh sukses yang besar sebagai pemimpin. Sementara itu ia menemukan pula bahwa organisasi yang manajemennya melakukan pendekatan dengan sistem ke tiga pada umumnya lebih produktif dan lebih efektif dalam penentuan sasaran dan pencapaiannya.