Tags

Related Posts

Share This

Manusia orba setengah dewa ibnu sutowo

Orde Baru dan segala seluk beluknya memang belum sepenuhnya dapat terungkap. Suharto dan keluarga Cendana nya diduga telah menyalahgunakan kekuasaannya saat itu untuk memperkaya diri, keluarga dan beberapa orang terdekat nya. melalui beragam modus dan operandi bisnis, Suharto dan kroninya menjadikan BUMN menjadi layaknya perusahaan pribadi. Salah satu “ATM” Orde Baru yaitu Pertamina. Awalnya Pertamina merupakan sebuah perusahaan tambang yang terletak di Sumatra Utara yang bernama PT Eksplotasi Tambang Sumatera Utara. perusahaan ini sementara berada di tangan ABRI. untuk menjaga kilang minyak dari perbuatan sabotase dan penambangan minyak ilegal, pada 10 Desember 1957 KSAD Jend. Nasution memerintahkan Panglima TT 2 Sumatra Selatan (Sekarang Kodam Sriwijaya) Kolonel Ibnu Sutowo untuk mengambil alih pucuk pimpinan. pada perkembangan selanjutnya, perusahaan tersebut berubah nama menjadi Permina (Perusahaan Minyak Negara). selanjutnya permina berkembang menjadi perusahaan raksasa yang menjadi penyumbang besar devisa bagi negara melalui sektor barang tambang.

Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta, 23 September 1914 – meninggal di Jakarta, 12 Januari 2001 sendiri sebenarnya terbilang baru dalam dunia militer. awalnya Ibnu Sutowo adalah seorang dokter, lulusan dari Surabaya. awalnya ia mengabdi sebagai dokter di Palembang dan Martapura. Setelah masa kemerdekaan, ia sempat bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). selanjutnya menduduku panglima TT 2 Sumatra Selatan. perkenalannya dengan minyak dimulai pada perkenalannya dengan Mayor Johanes Marcus Pattiasina. dia adalah satu di antara segelintir manusia Indonesia yang bekerja di bidang perminyakan di zaman Hindia Belanda. Pattiasina termasuk pemuda Republiken yang ikut serta dalam sejarah perusahaan minyak Indonesia di awal-awal proklamasi. dia ikut serta dalam pendirian Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri) di Sumatera Selatan. Permiri pertama kalinya didirikan di Kenten, Palembang pada 1945 kemudian disusul dengan berdirinya perusahaan yang sama di Prabumulih dan di daerah Jambi. Pattisina dipercaya oleh Ibnu Sutowo untuk menduduku posisi menejer permiri sebelum ahirnya berganti nama menjadi permina.

  Pada masa-masa tersebut, kebutuhan akan minyak ditambah cadangan besar minyak di Indonesia membuat Pertamina menjadi pundi uang. dengan cadangan yang cukup besar pertamina menjadi sumber pendapatan negara dan dana yang berhasil dihimpun oleh pertamina digunakan untuk mendirikan anak perusahaan lain yang tentunya dijabat oleh anggota keluarga Cendana. terlebih lagi pada saat perang Yom Kippur (1973) yang menjadikan kelangkaan minyak akibat embargo yang dilakukan oleh negara-negara Arab terhadap Eropa dan Amerika yang saat itu membantu Israel. Harga minyak melambung tinggi, hal ini tentu dimanfaatkan betul oleh Indonesia yang saat itu memiliki minyak yang berlimpah. Indonesia untung besar akibat kelangkaan minyak yang terjadi. namun sayang, keuntungan yang didadapat tidak digunakan untuk mengisi devisa namun malah sebagian besar beralih ke sektor investasi yang dilakukan oleh pemerintah. Ibnu Sutowo sendiri banyak melakukan investasi dan mendirikan atas nama dirinya dan keluarganya. 

Keluarga Ibnu Sutowo ketika Orba masih berkuasa, mempunyai sedikitnya 20 perusahaan. Ini termasuk PT Adiguna Shipyard (galangan kapal, pengadaan fiber glass kapal) dan PT Adiguna Mesin Tani (agicultural). Keluarga ini juga pemilik PT Indobuild Co (real estate, hotel) yang menguasai hak pengelolaan lahan di seputar Senayan – lokasi hotel, apartemen dan convention center. Keluarga Ibnu Sutowo lebih dikenal lewat konglomerasi Grup Nugra Santana (bursa saham, pemasaran, manajemen properti, investasi bangunan). Di bawah grup inilah keluarga Sutowo menguasai penjualan dan pemasaran operasional 5 hotel kelas atas: Jakarta Hilton International Hotel, Lagoon Tower Jakarta Hilton International, The Hilton Residence, Patra Surabaya Hilton International dan Bali Hilton International. Ekspansi besar-besaran dimotori Pontjo Sutowo. selain itu Ibnu Sutowo juga melakukan investasi otomotif yang bekerja sama dengan Otomotif di Jepang.

sebagai seorang yang memiliki harta berlimpah, Ibnu Sutowo gemar membelanjakan hartanya untuk sesuatu hal yang kurang perlu. pada saat itu total tabungan Ibnu Sutowo sebesar mencapai Rp 90,48 miliar (kurs rupiah saat itu Rp 400/dolar). Gaya hidup keluarga Ibnu Sutowo saat itu pun menjadi sorotan. pada saat itu Ibnu Sutowo menggelar pernikahan anaknya dengan kemewahan yang fantastis bahkan menurut jurnalis yang meliputnya mengatakan bahwa pernikahan anak dirut pertamina ini adalah pernikahan paling megah yang pernah digelar di Indonesia. namun, Ibnu Sutowo menyangkal menggunakan uang negara, ia beralasan bahwa pernikahan mewah anaknya ini merupakan sumbangan beberapa keluarga dan rekan bisnisnya. kegilaannya pada kemewahan tidak berhenti sampai disitu, Ibnu Sutowo tercatat juga pernah pergi ke Amerika Serikat hanya untuk pergi ke dokter gigi dengan menggunakan pesawat pribadinya. Ibnu juga disebut-sebut sebagai orang Indonesia pertama yang mendatangkan Rolls Royce pada awal 1970-an. Keluarga Ibnu Sutowo adalah salah satu royal family yang ada di Indonesia bersanding dengan keluarga Cendana. 

namun tidak selamanya hidup selalu berada diatas, Tahun 1975, kondisi keuangan Pertamina bagai dihajar topan. Perusahaan raksasa ini nyaris roboh setelah investasi di berbagai bidang tak berjalan lancar. Para petingginya diduga melakukan korupsi besar-besaran. Ibnu Sutowo membawa Pertamina nyaris bangkrut dan berutang sekitar USD 10,5 miliar tahun 1975. kerugian negara akibat kerja sama Ibnu Sutowo dengan pihak Jepang mencapai USD 1.554.590,28. angka yang fantastis itu mengubah pertamina yang awalnya menjadi sumber pendapatan negara berubah menjadi sebuah beban yang teramat besar bagi Indonesia. stabilitas ekonomi pemerintahan Orde Baru terguncang begitu hebat sampai-sampai pemerintah harus melakukan intervensi. Soeharto membeberkan Pertamina pasti bangkrut kalau pemerintah tak segera melakukan tindakan. Dia melakukan penertiban ke internal Pertamina. Soeharto memerintahkan Pertamina menjual sebagian aset yang berlebihan. Ibnu Sutowo pun dipecat sebagai Dirut Pertamina. Dosa Sutowo di mata Soeharto sudah tak termaafkan. “Saya tetapkan mengangkat kembali hampir semua anggota direksi yang lama untuk menjamin kelangsungan dan kelancaran tugas perusahaan, sementara Ibnu Sutowo diganti Piet Harjono sebagai dirutnya,” kata Soeharto . 

Soeharto menerapkan sejumlah langkah untuk memperbaiki Pertamina. Di antaranya membentuk Komisi Empat yang beranggotakan Wilopo, Anwar Tjokroaminoto, IJ Kasimo, dan Herman Johannes . salah satu anggota Komisi Empat, IJ Kasimo menyatakan bahwa Ibnu Sutowo dinyatakan merugikan keuangan negara atau melanggar hukum pidana. Kasusnya hanya dinyatakan (sebagai) ‘salah manajemen’ atau salah urus. namun, oleh Suharto, tidak pernah dilakukan pengusutan secara serius terhadap kasus yang melibatkan Ibnu Sutowo ini. bahkan dikatakan bahwa tidak ada yang berani menindak Ibnu Sutowo sendiri termasuk Suharto. Diduga aliran uang itu juga mengalir ke penegak hukum sehingga mereka tidak bisa apa-apa dan ikut menikmati hasil milik pertamina. selain itu, diduga bahwa Ibnu Sutowo memegang peranan penting yang berkaitan dengan rahasia terbesar milik Suharto dan keluarganya. jika terjadi pengusutan maka Suharto akan terseret dan itu tidak baik untuk pemerintahannya. Posisi mereka bedua saling mengunci,Mereka sama-sama pegang kartu truf masing-masing dan seakat tidak ingin membahasnya. Dari Pertamina, hanya H Thahir yang kemudian disorot dalam kasus korupsi. Ini pun terungkap saat putranya berebut warisan dengan sang istri muda. Kasus pelik ini baru terselesaikan setelah 15 tahun.