Tags

Related Posts

Share This

Mengenal LDII jilid2

Paham keagamaan yang dikembangkan oleh LDII dianggap kontroversial dan meresahkan masyarakat di berbagai daerah, karena dianggap masih mengajarkan paham Darul Hadits / Islam Jama’ah yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/ 1971 tanggal 29 oktober 1971) Setelah aliran ini dilarang pada tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972, selanjutnya LEMKARI 1972 tersebut berganti nama lagi dengan Lembaga Karyawan Dakwah Islam pada
tahun 1981 yang disingkat juga dengan LEMKARI (1981). Kemudian berganti nama lagi dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1990 sampai sekarang. Pergantian nama tersebut dikaitkan dengan upaya pembinaan eks Darul Hadits /Islam Jama’ah yang telah meninggalkan Darul Hadits / Islam Jama’ah yang telah dilarang bedasarkan SK Jaksa Agung RI yang telah disebutkan di atas.
Di antara pokok ajaran dan praktek keagamaan mereka ada hal-hal yang
dianggap menyimpang dari kemurnian ajaran Islam, 2 terutama yang dianut kaum
muslim Indonesia. Atas dasar inilah penulis termotivasi untuk menelusuri hakikat
LDII yang tentunya tetap mengedepankan obyektifitas data dan fakta sejarahnya, di
samping itu juga menyajikan beberapa pendapat tokoh, wawancara tertutup dengan
salah seorang Muballigh, Khotib dan Imam masjid LDII Kota Palembang.
Adapun permasalahan yang akan dikemukakan dalam tulisan ini adalah;
bagaimana hakekat LDII, sejarah, ajaran pokok dan praktek keagamaannya; yang
meliputi asal- usul lahirnya, nama-namanya, perkembangannya, pokok-pokok ajaran
dan perilaku sosial keagamaan, serta beberapa Pendapat tokoh tentang LDII.
Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui hakekat LDII; sejarah
munculnya, nama-nama dan perkembangannya, ajaran pokok dan prilaku sosial
keagamaan, serta beberapa pendapat tokoh tentang LDII. Dengan demikian
diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi yang benar dan sesuai dengan

Keberadaan LDII disinyalir mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan oleh H. Nurhasan al-Ubaidah Lubis pada tahun

Keberadaan LDII disinyalir mempunyai akar kesejarahan dengan Darul
Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan oleh H. Nurhasan al-Ubaidah Lubis pada tahun 1951 Setelah aliran ini dilarang pada tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972, selanjutnya LEMKARI di tahun yang sama 1972 berganti nama lagi dengan nama Lembaga Karyawan Dakwah Islam pada tahun 1981 yang disingkat juga dengan LEMKARI (1981). Kemudian berubah nama lagi dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1990 sampai
sekarang. Pergantian nama tersebut dikover atau disampul sebagai upaya pembinaan eks Darul Hadits /Islam Jama’ah yang telah meninggalkan Darul Hadits / Islam Jama’ah yang telah dilarang Negara bedasarkan SK Jaksa Agung RI yang telah disebutkan di atas.
Di antara pokok ajaran dan praktek keagamaan mereka ada hal-hal yang
dianggap menyimpang dari kemurnian ajaran Islam, 2 terutama yang dianut kaum muslim Indonesia dengan mengedepankan dakta, fakta, dan sejarah.

Asal Mula Munculnya LDII
Berbicara tentang asal mula LDII tidak dapat dipisahkan dengan tokoh utama lahirnya aliran ini, yaitu Madekal atau Madigol. Lengkapnya Muhammad Madigol. Ini adalah nama asli dari Imam Haji Nurhasan al-Ubaidah Lubis Amir. Ia dilahirkan pada tahun 1908 di Desa Bangi, Papar/Purwosari, Kediri Jawa Timur, sebagai anak H. Abdul Aziz. Sekolahnya hanya sampai kelas tiga sekolah dasar, kalau disamakan
dengan tingkat sekarang. Dahulu dikenal Sekolah Rakyat (SR). Adapun Pesantren pertama yang dikunjungi Madigol adalah pondok Sawelo, Nganjuk. Ini adalah pesantren kecil model sufi. Lalu pindah ke Pondok Pesantren Jamsaren, Solo selama tujuh bulan, karena ia lebih menyukai bid’ah, sepertiilmu perdukunan. Lalu ia belajar di Dresmo Surabaya, pondok khusus yang mendalami pencak silat dan kesaktian. Setelah
itu ia belajar di Sampang Madura, berguru kepada Kyai al-Ubaidah dari Batu Ampar. Kegiatannya mengaji dan melakukan wirid di sebuah kuburan keramat. Nama gurunya itulah kemudian yang ia pakai di belakang namanya.
Menurut pendapat lain,katanya juga pernah mondok, antara lain, di PondokLirboyo, Kediri dan Pondok Tebu Ireng, Jombang. Lalu ia berangkat haji pada tahun

Menurut pendapat lain,katanya juga pernah mondok, antara lain, di PondokLirboyo, Kediri dan Pondok Tebu Ireng, Jombang. Lalu ia berangkat haji pada tahun 1929 Sepulang dari itu namanya menjadi H. Nurhasan al-Ubaidah. Adapun Lubis itu adalah panggilan para muridnya, singkatan dari “Luar biasa“. Untuk menyatakan kedudukannya, maka di depan namanya ditambahkan kata Imam dan di belakangnya ditambah kata Amir.
Pada tahun 1933 tapi juga ada pendapat lain 1937/1938 ia berangkat lagi ke Mekkah. Menurut pendapat pertama di sana ia belajar hadits Bukhori-Muslim kepada Syekh Abu Umar Hamdani dari Marokko. Ia juga belajar di Madrasah Darul-Hadits yang tidak jauh dari Masjidil Haram. Nama Darul Hadits inilah yang kemudian dipakai untuk nama pesantrennya kelak.

Adapun pendapat kedua mengatakan, bahwa keberangkatannya ke Mekkah adalah pelarian, saat itu ada keributan di Madura, lalu ia lari ke Surabaya dan kemudian kabur ke Mekkah. Menurut pendapat ini,
berdasarkan cerita H. Khoiri yang bermukim di sana, bahwa Nurhasan tidak jelas kerjanya. Hanya karena sering muncul di Masjidil Haram, akhirnya ia diizinkan inggal di asrama yang dipimpin oleh H. Khoiri. Menurutnya juga, kemungkinanbesar Nurhasan masuk pondok perdukunan yang saat itu masih cukup banyak di Saudi Arabiyah. Dikuatkan lagi dengan konfirmasi Khozin ke Mekkah, maka
datanglah berita dari Syekh Muhammad Umar Abdul Hadi, Direktur Madrasah Darul hadits di Mekkah dan Syekh Abdullah bin Muhammad bin Humaid, Direktur Umum Inspeksi Agama di Masjidil Haram bahwa tidak benar ada orang yang bernama Nurhasan Al-Ubaidah yang belajar di sana antara tahun 1929-1941. Madrasah itu sendiri baru didirikan pada tahun 1956. Apabila diperhatikan, pendapat kedua ini
lebih menarik dan identik dengan Nurhasan, ilmu ghaib dan perdukunan. Apalagi dengan adanya informasi langsung dari Mekkah bahwa Madrasah Darul Hadits baru berdiri pada tahun 1956, itu artinya beberapa tahun setelah Nurhasan meninggalkan Mekkah, tepatnya pada
tahun 1941. Sepulang dari Mekkah ia membuka pengajian di Kediri. Pondok yang dia asuh pada mulanya biasa-biasa saja, baru pada tahun 1951 diproklamirkan dengan
nama Darul-Hadits. Dari pondok inilah H. Nurhasan memulai penyebaran da’akwahnya.

(bersambung)