Tags

Related Posts

Share This

Memahami Kawasan Rawan Bencana Semeru

Gunung Semeru atau dikenal juga sebagai Mahameru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung berapi teraktif yang ada di Indonesia,  Dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Sedangkan untuk posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.
Mengingat Mahameru adalah gunung api teraktif dan sebagian ada di wilayah Kabupaten Malang, maka diperlukan pemahaman guna antisipasi apabila bencana semeru terjadi.

Berikut petikan rekomendasi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ketika Gunung Semeru memasuki level siaga pada awal Februari kemarin:

Sehubungan dengan status Siaga G. Semeru maka direkomendasikan sebagai berikut:

  1. Masyarakat tidak melakukan aktifitas di wilayah sejauh 4 km di seputar lereng tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  2. Saat letusan/hembusan dari Kawah Jongring Seloko sering terjadi lontaran material vulkanik berupa batu/batu pijar, maka para pendaki/pengunjung dilarang mendekat kawah dalam radius 1 km dari Kawah Jongring Seloko.
  3. Berpotensi terjadinya guguran awan panas dengan jarak luncur lebih dari 5 km dan masih banyak endapan material vulkanik lepas di sekitar kawah dan puncak, maka jika terjadi hujan di daerah puncak masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan yang beraktifitas di dalam Sungai Besuk Kembar, Besuk Kobokan dan Besuk Bang harap selalu berhati-hati karena dapat terancam bahaya aliran lahar.
  4. Masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing isu-isu terkait dengan aktivitas G. Semeru yang tidak jelas sumbernya. Untuk itu masyarakat dapat berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Semeru di G. Sawur atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung.
  5. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang harap melakukan sosialisasi ke masyarakat yang berada di Dudun Supit, Rawa Baung dan yang beraktifitas dan bermukim di bantaran Besuk Kembar. Besuk Kobokan dan Besuk Bang  agar siap siaga mengantisipasi jiga terjadi erupsi G. Semeru berupa guguran awan panas secara tiba-tiba.
  1. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lumajang, BPBD Kabupaten Malang dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Berdasarkan informasi dan rekomendasi di atas sekiranya warga sekitar tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas sejauh 4 km di seputar lereng Gunung Semeru. Selain mengeluarkan informasi lengkap dan detil terkait status suatu Gunung, PVMBG juga mengeluarkan peta kawasan rawan bencana. Gambar di bawah ini merupakan cuplikan peta kawasan rawan bencana (krb) gunung semeru. Lingkaran warna merah merupakan buffer 5 km dari puncak gunung semeru dan berdasarkan tulisan di legenda bahwa kawasan tersebut rawan terhadap lontaran batu (pijar) dan hujan lebat.  Garis warna kuning adalah daerah rawan terhadap hujan abu dan kemungkinan lontaran batu (pijar). Warna merah berpola dari puncak dan mengikuti aliran sungai adalah kawasan rawan III yakni area yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran atau guguran batu (pijar).

Untuk melihat gambaran 3 dimensi dari kawasan rawan bencana yang ditumpangkan di atas citra satelit landsat dengan data SRTM sebagai layer ketinggiannya, berikut gambarannya

Sedangkan untuk wilayah yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana serta Bufer 5 Km dan 8 Km dibawah ini tabelnya

Sedangkan dibawah ini adalah map sebaran lokasi evakuasi

Sumber : Wikipedia, Badan Nasional Penangulangan Bencana, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Aji P. Perdana

Mahameru 2012