Menjelang Proklamasi 17 Agustus ’45 Aug17

Tags

Related Posts

Share This

Menjelang Proklamasi 17 Agustus ’45

merahputihSeorang penulis Belanda, Bob Hering, dalam bukunya berjudul “Soekarno,
Founding Father of Indonesia 1901- 1945″ (terbitan Koninklijk Instituut voor
Taal, Land and Volkenkunde/KITLV Press, Leiden, 2002) di halaman 364
mencatat pada 10 Agustus 1945 Soetan Sjahrir memberitahu (penyair) Chairil
Anwar tentang telah dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan bahwa Jepang
telah menerima ultimatum dari Sekutu untuk menyerah.

Sjahrir mengetahui hal itu melalui siaran radio luar negeri, yang ketika itu
terlarang. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda (terutama
para pendukung Syahrir.)
Sekembali mendampingi Ir Soekarno dan Radjiman ke Dalat (250 km di sebelah
timur laut dari Saigon), pada 14 Agustus Hatta menceritakan kepada Sjahrir
tentang hasil pertemuan di Dalat pada tanggal 11 Agustus di mana Jepang
melalui Marsekal Terauchi mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman
bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia (dapat dilaksanakan) dalam beberapa
hari.

Sjahrir mengomentari hasil pertemuan Dalat sebagai tipu busuk Jepang, karena
Jepang setiap saat sudah harus menyerah; “Dan Sjahrir mendesak Hatta supaya
proklamasi Indonesia merdeka segera dilaksanakan, karena Jepang sudah tamat
dan sudah tiba waktunya untuk menjadikan situasi Indonesia serevolusioner
mungkin, demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti
dan pro dengan Jepang.
Sementara itu Sjahrir menyiapkan pengikutnya yang bakal berdemonstrasi dan
bahkan mungkin harus siap menghadapi bala tentara Jepang dalam hal mereka
akan menggunakan kekerasan.” Sjahrir telah menyusun teks proklamasi dan
telah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan.

Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Sjahrir tidak berhak memproklamasikan
kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI).

Rengasdengklok
Pada 15 Agustus, setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut,
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk
memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi
kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, di
Jalan Imam Bonjol. Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat
atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima
konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokio.
Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 malam 16
Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan
segala sesuatu yang berhubungan dengan UUD yang sehari sebelumnya telah
disiapkan Hatta.

Pada 15 Agustus, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan
oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pengikut Sjahrir. Pada siang
hari mereka berkumpul di rumah Hatta, dan sekitar pukul 10 malam di rumah
Soekarno.
Sekitar 15 pemuda menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan
melalui radio, disusul pengambilalihan kekuasaan. Mereka juga menolak
rencana PPKI untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 16 Agustus.

Wikana (pernah menjadi anak buah Soekarno pada 1930-an di Bandung)
mengatakan “besok pagi akan terjadi pembunuhan jika keinginan pemuda tidak
dilaksanakan”. Soekarno dengan marah menghampiri Wikana sambil menunjuk
lehernya sendiri.
Soekarno berteriak kepada Wikana: “Ini leher saya, seret saya ke pojok itu
dan habisi saya di sini sekarang, tidak usah menunggu besok pagi.” Wikana
terkejut sambil mengatakan ia tidak berniat membunuh Soekarno.

Insiden Rengasdengklok
Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno
dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu terjadi insiden
Rengasdengklok. Pada pagi 16 Agustus selepas sahur (ketika itu bulan Puasa),
Soekarno bersama isteri dan bayi laki -lakinya yang baru berumur 9 bulan)
dan Hatta diculik.

Sekembali dari Rengasdengklok Soekarno-Hatta bertekad memproklamasikan
kemerdekaan. Mereka tidak keberatan kehadiran Maeda di situ karena selain
merasa terlindung, mereka juga hendak memberi pelajaran kepada para pemuda
tentang urusan diplomatik yang sangat rumit.
Para pemuda mengusulkan naskah proklamasi menyatakan semua aparat
pemerintahan harus dikuasai oleh rakyat dari pihak asing yang masih
menguasainya. Tetapi mayoritas anggota PPKI menolaknya dan disetujuilah
naskah proklamasi seperti adanya hingga sekarang.

Para pemuda kemudian menuntut enam pemuda turut menandatangani proklamasi
bersama Soekarno dan Hatta dan bukan para anggota PPKI. Para pemuda
menganggap PPKI mewakili Jepang. Kompromi pun terwujud dengan membubuhkan
anak kalimat “atas nama Bangsa Indonesia” Soekarno-hatta, 17 Agustus 2605.

Ironi, peristiwa bersejarah ini kemudian dianggap punya dua naskah
proklamasi. Yang pertama, ditulis tangan oleh Soekarno, yang keduanya
diketik oleh Sajoeti Melik (sekretaris Soekarno) yang juga ditandatangani
Soekarno-Hatta. Sejarawan Nugroho Notosutanto mengaburkan Soekarno sebagai “yang
melahirkan Pancasila” dan menyatakan teks proklamasi yang otentik justru
yang diketik Sajoeti Melik.


Winarta Adisubrata