Paham Khilafah ala ISIS dan Al Nusra di PC 1333 GM FKPPI...

Pada Jum’at 16 Agutus kemarin seperti biasa saya berkunjung ke markas GM FKPPI dimana sudah 23 tahun saya jadi anggota GM FKPPI. Disitu saya bertemu dengan dua orang yang belum pernah saya temui sebelumnya, yang satu bercelana pendek tipis dan perlu anda ketahui sangat tidak pantas anda pakai di kantor resmi GM FKPPI apalagi anda mengaku sebagai lawyer, dan satu orang lagi berkostum seperti kebanyakan anggota fkppi yang suka style militer (saya juga :D). seperti biasa antar anggota meskipun baru kenal kami senang berdiskusi mulai dari situasi nasional sampai Internasional. saat pembicaraan mengarah ke terrorisme dan khilafah mereka langsung ngegas topik pembicaraan tentang kebenaran faham khilafah. Saya kaget melihat mereka yang jelas anak yang dibesarkan untuk mengawal Indonesia dan Pancasila mempunyai pola pikir seperti itu dan gagal paham tentang istilah Khilafah. semoga dengan sedikit tulisan ini kalian yang tersesat bisa paham. Tidak ada istilah Khilafah dalam al-Qur’anTidak ada istilah Khalifatullah fil Ardh dalam al-Qur’anHanya dua kali al-Qur’an menggunakan istilah Khalifah, yang ditujukan untuk Nabi Adam dan Nabi Dawud. Penggunaan terminologi atau istilah Khalifah itu hanya digunakan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, dalam QS 2:30: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Konteks ayat ini berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam AS. Ini artinya Nabi Adam dan keturunannya telah Allah pilih sebagai pengelola bumi. Penggunaan istilah Khalifah di sini berlaku untuk setiap anak cucu Adam. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia….” (QS 33:72) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan...

Pahlawan Revolusi Indonesia Yang Terlupakan...

Perang kemerdekaan diwarnai dengan berbagai kisah heroik dan diplomasi panjang hingga mendapatkan kemerdekaan berdaulat secara de facto dan de Jure. Aku hanya setetes dari laut yang mengarus semakin besar menuju kebebasan. Orang Indonesia boleh saja melupakan segala sesuatu mengenai diriku. Mengapa tidak. Salah satu kata-kata Ktut Tantri yang di kutip dari buku 10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?, oleh Batara R. Hutagalung Oktober 2001. Sampai sekarang namanya tidak masuk dalam daftar pahlawan Indonesia. Sama seperti apa yang ia katakan kepada belanda saat menawarkan uang dalam jumlah besar untuk tidak membantu Indonesia saat berada di Australia. Nama asli dari Ktut Tantri adalah Muriel Stuart Walker, yang menarik di sini Tantri sendiri lahir di Inggris Glasglow. Ia pindah ke amerika dan menjadi warga negara Amerika. Saat berada di Amerika Ia menonton film Bali: The last Paradise. Setelah menonton film tersebut ia memantapkan hatinya untuk pergi menju Bali. Setelah beberapa waktu ia benar-benar pergi ke Bali untuk pertama kalinya. Dengan mengendarai Mobil yang ia beli di Batavia, Tantri bersumpah ia akan turun saat bensinya habis dan disanalah ia akan tinggal. Mobilnya berhenti di depan sebuah Istana Raja yang dianggapnya sebuah Pura. Setelah memasuki tempat tersebut malah bertemu dengan Raja wilayah tersebut dan diangkatlah menjadi anak ke 4 yang diberi nama Ktut Tantri. Ia mulai aktif dalam politik di Indonesia setelah sering berdiskusi dengan Nura, anak pertama dari Raja yang menangngkatnya. Nura sendiri adalah lulusan Leiden dan Heidelberg Jerman. Sepak terjang Tantri sendiri sudah mulai di kenal, salah satu peristiwa yang membuatnya terkenal adalah peristiwa 10 Novermber 1945. Pertempuran-pertempuran yang ia siarkan di radio membuatnya di juluki sebagai Surabaya Sue. Bukan hanya peristiwa tersebut dalam membantu kemerdekaan di Indonesia, saat pendudukan jepang ia juga sudah pernah merasakan dibalik jeruji jepang. Saat peristiwa pemindahan ibu Kota ke Jogja...

Soeharto sang pengaman Ibnu Sutowo dalam korupsi Pertamina...

Mochtar Lubis lewat Harian Indonesia Raya berusaha menguliti dan membongkar kasus korupsi di Pertamina yang dilakukan Ibnu Sutowo. Dua koper bukti dugaan korupsi di perusahaan milik negara itu disodorkan, tapi toh Ibnu Sutowo tetap melenggang kangkung dan menikmati hasil korupsinya. Di eranya, Ibnu Sutowo yang menjabat Dirut Pertamina seperti orang kebal hukum. Meski diberitakan habis-habis, Ibnu yang dikenal irit bicara ini tidak pernah diperiksa atas sederet kasus korupsi bahkan hingga menyeret kebangkrutan Pertamina. “Tidak ada yang penegak hukum yang saat itu memeriksa atau memanggil dia atas berita korupsi yang kami beritakan. Tidak ada, dia seperti kebal hukum,” ujar mantan Redaktur Pelaksana Harian Indonesia Raya, Atmakusumah saat berbincang di redaksi merdeka.com, Tebet Barat IV nomor 3, Jakarta Selatan, Selasa (29/10). Bukan tanpa alasan penegak hukum di era itu mandul, Harian Indonesia Raya pada 30 Januari 1970 memberitakan bahwa simpanan Ibnu Sutowo mencapai Rp 90,48 milyar. Namun bukan karena hanya uang yang melimpah Ibnu Sutowo kebal hukum. “Saat itu dia memang dekat dengan Soeharto. Bahkan saya kira dia (Ibnu Sutowo) dan Soeharto saling pegang kartu truf,” terang Atma yang fasih bercerita meski telah berusia 75 tahun itu. Mochtar Lubis sendiri dalam buku, Mochtar Lubis bicara lurus: Menjawab pertanyaan wartawan pernah menyebut bahwa Jaksa Agung Saat itu juga tak berkutik kepada Ibnu Sutowo. Dalam buku tersebut, Mochtar menyebut Jaksa Agung saat itu Ali Said tidak berbuat apa-apa soal dugaan korupsi yang dilakukan Ibnu Sutowo. “Waktu kami ramai-ramai membongkar, pemerintah diam saja. Padahal waktu itu kami sudah serahkan (kepada pemerintah) lembaran-lembaran bukti tertulis mengenai kasus korupsi Pertamina. Kami kirim ke Jaksa Agung, kami kirim ke panitia tujuh yang dipimpian oleh Almarhum Wilopo,” ujar Mochtar Lubis dalam buku tersebut. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Atma. Menurutnya di tahun 70 an, Soeharto bukan hanya pemegang kekuasaan eksekutif saja, tetapi semua...

Mohon Ma’af atas Slow respon...

Terima kasih sebelumnya atas atensi dan dukungan anda selama ini. Namun demikian ada hal yang cukup mengganggu yaitu slow repon admin terhadap pertanyaan-pertanyan dari teman-teman yang bercampur dengan spam yang julmahnya ribuan, yang mengharuskan saya memilah-milah mana yang betul-btul reponden dan yang bukan. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya....

Manusia orba setengah dewa ibnu sutowo...

Orde Baru dan segala seluk beluknya memang belum sepenuhnya dapat terungkap. Suharto dan keluarga Cendana nya diduga telah menyalahgunakan kekuasaannya saat itu untuk memperkaya diri, keluarga dan beberapa orang terdekat nya. melalui beragam modus dan operandi bisnis, Suharto dan kroninya menjadikan BUMN menjadi layaknya perusahaan pribadi. Salah satu “ATM” Orde Baru yaitu Pertamina. Awalnya Pertamina merupakan sebuah perusahaan tambang yang terletak di Sumatra Utara yang bernama PT Eksplotasi Tambang Sumatera Utara. perusahaan ini sementara berada di tangan ABRI. untuk menjaga kilang minyak dari perbuatan sabotase dan penambangan minyak ilegal, pada 10 Desember 1957 KSAD Jend. Nasution memerintahkan Panglima TT 2 Sumatra Selatan (Sekarang Kodam Sriwijaya) Kolonel Ibnu Sutowo untuk mengambil alih pucuk pimpinan. pada perkembangan selanjutnya, perusahaan tersebut berubah nama menjadi Permina (Perusahaan Minyak Negara). selanjutnya permina berkembang menjadi perusahaan raksasa yang menjadi penyumbang besar devisa bagi negara melalui sektor barang tambang. Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta, 23 September 1914 – meninggal di Jakarta, 12 Januari 2001 sendiri sebenarnya terbilang baru dalam dunia militer. awalnya Ibnu Sutowo adalah seorang dokter, lulusan dari Surabaya. awalnya ia mengabdi sebagai dokter di Palembang dan Martapura. Setelah masa kemerdekaan, ia sempat bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). selanjutnya menduduku panglima TT 2 Sumatra Selatan. perkenalannya dengan minyak dimulai pada perkenalannya dengan Mayor Johanes Marcus Pattiasina. dia adalah satu di antara segelintir manusia Indonesia yang bekerja di bidang perminyakan di zaman Hindia Belanda. Pattiasina termasuk pemuda Republiken yang ikut serta dalam sejarah perusahaan minyak Indonesia di awal-awal proklamasi. dia ikut serta dalam pendirian Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri) di Sumatera Selatan. Permiri pertama kalinya didirikan di Kenten, Palembang pada 1945 kemudian disusul dengan berdirinya perusahaan yang sama di Prabumulih dan di daerah Jambi. Pattisina dipercaya oleh Ibnu Sutowo untuk menduduku posisi menejer permiri sebelum ahirnya berganti...