Is This The Most Dangerous School Run In The World?...

IT’S certainly a school run where you could do with a 4×4. But this group of kids making their way to lessons have to manage on their own two feet. The intrepid children must cross a broken bridge to get home to their village on the west coast of Indonesia.   After widespread destruction following an earthquake in 2008, the bridge has been in tatters ever since. And although many villagers are too afraid to cross it in case it snaps, this group of pupils seem to enjoy the challenge of getting to lessons.   The photographs were taken close to the remote Sumua Bana village. The group of kids were making their way back from an exam at their school. And somewhat ironically, the name of the town where their school is based, Pariaman, translates as “safe area”.   For the pupils crossing the river, however, one false step could see them — and their homework — plunge into the water below. But at the very least, their intrepid journey should give them a good excuse if they are late to lessons.   Source...

Tiap Tahun Peringati Hari Bumi, tapi Perusakan Lingkungan Hidup Terus Terjadi...

Bandung – Setiap tahun 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Tapi perusakan bumi, air, udara, dan hutan, terus berlanjut secara sistematis, masif, dan cepat. Tak terkecuali di Jawa Barat. Maraknya bencana alam dapat menjadi salah satu tolok ukurnya. Wahana Lingkungan Hidup mencatat sepanjang 2013 saja, setidaknya 35 orang meninggal karena bencana alam, di Bandung Barat, Sukabumi, Bogor, Tasikmalaya, dan Tasikmalaya. Alih fungsi lahan dan tak adanya pola pengelolaan lingkungan hidup yang tepat, menurut Walhi merupakan penyebab banyaknya bencana ekologis seperti banjir, kekeringan, longsor, dan pencemaran lingkungan, yang semuanya mengancam kehidupan dan hidup masyarakat Jawa Barat. “Dari pemeriksaan Walhi Jawa Barat, aktivitas pertambangan berkontribusi besar dalam perusakan ekosistem baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan di Bumi Jawa Barat,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan, dalam siaran pers, Minggu (21/4/2013). Hitungan kasar Walhi Jawa Barat, sejak 2007 hingga 2011, penambangan yang mengeruk 8,5 juta ton emas, perak, galena, pasir besi, karst, dan pasir, telah menyebabkan kerugian lingkungan senilai Rp 1,58 triliun. Sementara dalam kurun waktu yang sama, lanjut Dadan, eksploitasi air bawah tanah mencapai 4,39 juta meter kubik, dengan kerugian lingkungan hidup senilai Rp 84,3 triliun. Belum lagi kerusakan lingkungan akibat pencemaran tanah dan limbah industri yang mencemari sawah, ladang, dan air, yang belum terhitung. Juga, perusakan akibat sampah yang per hari mencapai rata-rata 500 ton di setiap kabupaten kota di Jawa Barat. Celakanya, kata Dadan, anggaran nasional dan daerah untuk pencegahan dan pemulihan lingkungan hidup sangat kecil dibandingkan nilai kerugian lingkungan hidup. Di Jawa Barat, misalnya, alokasi anggaran lingkungan hidup hanya 1 persen total APBD, dan rerata di tiap kabupaten kota hanya 2 persen APBD. “Tidak sebanding dengan eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan dan keuntungan ekonomi para pengusaha dan pemerintah,” kecam Dadan. Walhi, kata Dadan, menilai tidak ada keberpihakan...

Panduan Mendaki Gunung Dalam Gambar...

  Planning Physical Preparation Journey Equipment Cooking Equipment Packing Tent Preparation Hiking Ethics Hiking Techniques Know The...

29 Hektar Hutan di TNGP Akan Digunduli!!!...

Jakarta – Bahaya mengancam konservasi hutan di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP), Bogor. 29 Hektar lahan hutan yang dilindungi sebagai kawasan hutan dilindungi terancam dibabat. Sebuah perusahaan pengerukan pasir mengklaim sudah memiliki sertifikat area di Batu Karut, Pasir Buncir, Caringin, Bogor. “Perusahaan itu sertifikatnya sudah ada. Kita ada indikasi mereka mau memanfaatkan kawasan Taman Nasional seluas 29,4 hektar itu. Mereka sudah mau menebang hutan pinus di sana,” jelas Kepala Polisi Hutan TNGP Ida Rohaida. Ida menuturkan, dia tak tahu bagaimana sertifikat hutan itu bisa berada di tangan perusahaan itu. Sertifikat itu dikeluarkan BPN. “Kita sudah berkirim surat ke BPN dan ke Dinas Tata Ruang Bogor bahwa wilayah itu milik Taman Nasional Gede Pangrango,” tuturnya. Tapi, surat yang dikirimkan seolah tak berarti. Perusahaan itu kini sudah memiliki sertifikat. Mereka pun sudah menyiapkan orang untuk menebang 29 hektar hutan. “Selama ini petugas Polhut selalu berjaga. Kita juga minta bantuan warga desa, tapi tidak tahu sampai kapan begini. Kabarnya mereka mau membawa preman dari Jakarta untuk mengawal penebangan hutan itu,” tuturnya. Pria yang sudah 13 tahun berkarier di TNGP ini berani memberi bukti bahwa wilayah itu masuk Taman Nasional lewat patok yang ada. Luas wilayah konservasi di Gede Pangrango total mencapai 22 ribu hektar. “Sesuai UU No 41 tahun 1999, UU No 5 tahun 1990 dan PP 45/2004 wilayah Taman Nasional tidak bisa digunakan untuk komersil. Pemanfaatannya hanya untuk wisata lingkungan, pendidikan, dan penelitian,” tutupnya....

Majalah Tempo Hilang dari Peredaran...

Jakarta – Majalah Tempo edisi 15-21 April 2013 menghilang dari peredaran, Senin, 15 April 2013. Menurut Kepala Regional Sirkulasi Tempo Bagian Selatan, Iman Sukarnadi, majalah Tempo diborong oleh sejumlah orang. “Laporannya, sejak tadi subuh sudah mulai diborong,” kata Iman. Iman sendiri belum berhasil menemukan satu eksemplar pun majalah Tempo di tangan agen atau pengecer pinggir jalan. Meski dia sudah menyusuri sejumlah agen yang ada di kawasan Blok M dan Blok A. “Tapi semuanya juga sudah habis dan tidak ada satu eksemplar pun.” Wilayah sirkulasi majalah Tempo di Jakarta Selatan meliputi kawasan Blok M, Panglima Polim, dan Blok A. Setiap pekan, sekitar 5.000 eksemplar majalah Tempo didistribusikan ke 20 agen untuk dijual kepada masyarakat. “Ada juga pengecer yang ambil ke agen,” kata dia. Untuk alur distribusi majalah Tempo, sebagian besar agen mengambil langsung ke percetakan TemPrint, sehari sebelum diedarkan. “Sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 majalah Tempo mulai diambil,” ujarnya. “Ada juga beberapa agen yang mendapat kiriman dari percetakan TemPrint.” Iman menduga pemborongan majalah terjadi hampir di seluruh wilayah Jakarta. Soalnya, dia tidak melihat satu pun lapak yang menjual majalah Tempo, mulai dari Blok M, Blok A, hingga kawasan Pramuka, Jakarta Timur. “Dari beberapa lampu merah, tidak satu pun yang jual,” katanya. Soal motif, Iman belum mengetahuinya. Tapi ia menduga pemborongan terkait berita yang dimuat majalah Tempo. Dalam edisi 15-22 April 2013, majalah Tempo menulis dugaan keterlibatan Ketua Fraksi sekaligus Bendahara Umum Partai Golkar Setya Novanto dalam kasus korupsi PON Riau. Laporan utama ini menemukan indikasi Setya ikut mengatur proyek itu. Setya juga diduga terlibat perkara kartu tanda penduduk elektronik.  ...