Malang Satu Dari 28 Kota Indonesia Yang Terancam Letusan Gunung Api...

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ada 28 daerah di Indonesia yang terancam letusan gunung api. Menurut Kepala PVMBG Surono, ada 12 gunung api kini yang berstatus waspada. Sedangkan 5 gunung yang masih berstatus siaga, yaitu Lokon, Soputan, Karangetang di Sulawesi Utara, Gamalama (Maluku Utara), dan Gunung Ijen (Jawa Timur). Menurut Surono, pemerintah daerah dan badan Penanggulangan Bencana Daerah disarankan memiliki rencana penanganan bencana gunung api. Mulai dari latihan evakuasi, dan yang juga penting yaitu jalur evakuasi. “Penandaan jalur dengan tanda panah di daerah rawan bencana sebaiknya dilakukan tanpa membuat panik masyarakat,” katanya di Aula Barat ITB, Kamis, 27 September 2012. Surono mengatakan, ada lebih dari 20 gunung api yang bisa menghasilkan 5 juta pengungsi ketika muncul letusan. Belajar dari penanggulangan bencana di Gunung Merapi 2010, perhitungan ilmiah harus dipadukan dengan kearifan lokal, budaya, dan kebiasaan masyarakat setempat untuk memindahkan penduduk sementara dari ancaman bahaya. Berikut daftar Kota Volkano di Indonesia: 1. Dataran Dieng yang dihuni 1,5 juta jiwa lebih. Sumber ancaman: Kawasan pegunungan Dieng. 2. Ternate, berpenduduk 185 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Gamalama. 3. Bitung, Sulawesi Utara, berpenghuni 187 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Tangkoko 4. Kotamobagu, Sulawesi Utara, berpenduduk 107 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Ambang. 5. Cimahi, Jawa Barat, berpenghuni 500 ribu lebih orang. Sumber ancaman: Gunung Tangkuban Parahu. 6. Garut, Jawa Barat, penduduk 136 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Guntur, Papandayan, dan Galunggung. 7. Bogor, Jawa Barat, 950 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Gede, Salak. 8. Menado, Sulawesi Utara, 410 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Mahawu, Lokon-Empung. 9. Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, 126 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Dempo. 10. Sukabumi, Jawa Barat, berpenduduk 281 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Gede, Salak. 11. Batu, Jawa Timur, berpenghuni 190...

Etika Dasar Berkomunikasi Radio Sep23

Etika Dasar Berkomunikasi Radio...

Berkomunikasi menggunakan radio komunikasi pada dasarnya adalah mudah. Perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan HP/ telpon adalah sistem komunikasinya yang dilakukan  secara bergantian. Dalam berkomunikasi menggunakan radio komunikasi ataupun HT, ada beberapa hal yang hendaknya diperhatikan demi menjamin kelancaran penyampaian informasi dan efektifitas serta efisiensi waktu dan perangkat. Mengutip pedoman salah satu organisasi radio, tata cara berkomunikasi dengan radio komunikasi adalah sebagai berikut: Pada saat berkomunikasi, harus berpedoman pada IKIT yang merupakan singkatan dari : IRAMA : Potongan-potongan kalimat harus diucapkan secara jelas, kalimat hendaknya singkat, jelas dan langsung pada pokok pembahasan. KECAKAPAN : Bicara dengan kecepatan sedang; jangan bicara terlalu cepat. ISI SUARA : Bicara agak keras dari biasanya, tidak berteriak atau berbisik. TINGGI NADA : Tinggi nada sedang, ini akan lebih jelas diterima daripada nada rendah. Selain itu, saat berkomunikasi biasakan untuk memberikan interval 2-3 detik setelah lawan bicara anda selesai bicara sehingga apabila ada pihak lain yang mungkin lebih perlu menyampaikan informasi akan dapat menyela di sela waktu 2-3 detik tersebut. Saat berkomunikasi, kita tidak perlu tergesa-gesa, komunikasikan dengan kata-kata yang jelas dan mudah dimengerti / difahami. Apabila dipandang perlu, bisa menggunakan bahasa sandi yang sudah disepakati bersama. (misal kode jajaran seperti di UBKM). Kode panggil juga mungkin diperlukan dalam suatu komunitas yang sedang berkomunikasi, misalnya dengan kode panggil Medan – sekian. Tujuan penentuan kode panggil ini adalah supaya tidak ada kesalahan pemahaman dalam menerima informasi atau panggilan, karena kode panggil sifatnya adalah unik dan tidak berganda. Apabila tata-cara dan pemanfaatan kode sandi serta kode panggil sudah bisa diterapkan dengan baik, maka komunikasi akan lebih efektif dan tepat sasaran. Lapan Nam… Sumber: RAPI,...

Tata Cara Perizinan Frekuensi Radio Dinas Tetap dan Bergerak Darat Sep18

Tata Cara Perizinan Frekuensi Radio Dinas Tetap dan Bergerak Darat...

Perizinan Frekuensi Radio Dinas Tetap dan Bergerak Darat, terdiri dari : DINAS TETAP (microwave link, komunikasi HF, wireless broadband, dll.) DINAS BERGERAK DARAT (radio trunking, komunikasi data, sistem komunikasi radio konvensiona/komrad/konsesi dengan perangkat repeater, rig/mobile-unit, Handy-Talky (HT), dll.) A. TATA CARA PERIZINAN FREKUENSI RADIO DINAS TETAP DAN BERGERAK DARAT Tata cara dan prosedur permohonan izin penggunaan frekuensi radio dinas tetap dan bergerak darat dapat di lihat pada diagram alir dibawah ini. Standar mutu waktu proses izin penggunaan frekuensi radio dinas tetap dan bergerak darat dapat di lihat pada gambar dibawah ini. B. PERSYARATAN PERMOHONAN ISR BARU Surat permohonan ditujukan kepada Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Fotocopy akta pendirian badan hukum beserta salinan pengesahan dan akta perubahan terakhir Perangkat yang digunakan telah memiliki sertifikat Data administrasi dan data teknis secara lengkap dan benar termasuk gambar konfigurasi jaringan dan peta lokasi stasiun radio. Formulir isian ISR dapat diunduh disini. C. PERSYARATAN PERMOHONAN ISR PERPANJANGAN Surat permohonan ditujukan kepada Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Membayar BHP frekuensi radio tahunan Menyampaikan perubahan data administrasi dan data teknis sebelum jatuh tempo masa laku izin tahunan berakhir (apabila ada). ISR Perpanjangan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diajukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum jangka waktu ISR berakhir. D. PERSYARATAN PERMOHONAN ISR PERLUASAN ISR Surat permohonan ditujukan kepada Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Fotocopy ISR eksisting Perangkat yang digunakan telah memiliki sertifikat Data administrasi dan data teknis secara lengkap dan benar termasuk gambar konfigurasi jaringan dan peta lokasi stasiun radio. Formulir isian ISR dapat diunduh disini. E. PERSYARATAN PERMOHONAN PERUBAHAN DATA (MUTASI) Mutasi dengan analisa teknis sama dengan permohonan ISR Baru atau ISR Perluasan. Mutasi tanpa analisa teknis Surat permohonan ditujukan kepada Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan...

2030 Wilayah Malang Diprediksi Tenggelam...

Malang. Wilayah Malang diprediksikan akan tenggelam pada 2030 mendatang jika kawasan lahan hutan tak dijaga. Berubahnya fungsi lahan terbuka hijau menjadi pemukiman dan pertokoan menyebabkan lahan resapan air berkurang. “Dampaknya, saat hujan deras sungai meluap membanjiri daratan,” kata Asisten Deputi Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Emma Rahmawati, dalam lokakarya perubahan iklim di Hotel Savana, Kota Malang, Jumat, 14 September 2012. Hasil kajian yang melibatkan berbagai pihak memprediksikan pada 20 tahun mendatang curah hujan sangat tinggi. Meskipun hujan terjadi singkat, tapi intensitas hujannya tinggi. Kajian ini dilakukan secara intensif selama 1,5 tahun. Dampaknya, sungai bakal meluap mencapai 80,32 persen dari luas lahan di Kota Malang. Akibat lainnya berupa krisis air bersih dan berkembangnya bibit penyakit seperti malaria dan demam berdarah, termasuk menurunnya produksi pertanian yang berdampak terhadap ketahanan pangan. Oleh sebab itu, Emma mengharapkan para pihak berwenang di Malang segera menyusun rencana aksi adaptasi terhadap perubahan iklim secara ekstrim tersebut, antara lain berupa program rehabilitasi lahan untuk mencegah luapan Sungai Brantas. Program rehabilitasi lahan, katanya, berupa reboisasi, terutama pada ruang terbuka hujau berupa ladang, lapangan, dan hutan rakyat. Bahkan, dia merekomendasikan pemda untuk membangun embung atau tempat penampungan air guna pengembangan sumber daya air, termasuk memperbanyak sumur resapan untuk menyimpan air hujan. Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Purnawan Dwikora Negara, menyebutkan kerusakan lingkungan di Kota Malang cukup mengkhawatirkan. Lahan terbuka hijau (RTH) telah dieksploitasi untuk kepentingan bisnis dan ekonomi. “Eksploitasi harus dihentikan guna mencegah bencana lebih besar,” katanya. Purnawan menyebutkan, misalnya, RTH di lahan eks kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) Jalan Veteran justru dijadikan pusat perbelanjaan Malang Town Square (Matos), hutan kota Tanjung, kawasan tangkapan air Jalan Indrokilo dan Jalan Pulosari berubah menjadi perumahan mewah. Kawasan tangkapan air di Pulosari diubah menjadi pertokoan, Taman Kunir dibangun kantor kelurahan, sedangkan lapangan rampal...

Memahami Kawasan Rawan Bencana Semeru...

Gunung Semeru atau dikenal juga sebagai Mahameru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung berapi teraktif yang ada di Indonesia,  Dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Sedangkan untuk posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT. Mengingat Mahameru adalah gunung api teraktif dan sebagian ada di wilayah Kabupaten Malang, maka diperlukan pemahaman guna antisipasi apabila bencana semeru terjadi. Berikut petikan rekomendasi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ketika Gunung Semeru memasuki level siaga pada awal Februari kemarin: Sehubungan dengan status Siaga G. Semeru maka direkomendasikan sebagai berikut: Masyarakat tidak melakukan aktifitas di wilayah sejauh 4 km di seputar lereng tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas. Saat letusan/hembusan dari Kawah Jongring Seloko sering terjadi lontaran material vulkanik berupa batu/batu pijar, maka para pendaki/pengunjung dilarang mendekat kawah dalam radius 1 km dari Kawah Jongring Seloko. Berpotensi terjadinya guguran awan panas dengan jarak luncur lebih dari 5 km dan masih banyak endapan material vulkanik lepas di sekitar kawah dan puncak, maka jika terjadi hujan di daerah puncak masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan yang beraktifitas di dalam Sungai Besuk Kembar, Besuk Kobokan dan Besuk Bang harap selalu berhati-hati karena dapat terancam bahaya aliran lahar. Masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing isu-isu terkait dengan aktivitas G. Semeru yang tidak jelas sumbernya. Untuk itu masyarakat dapat berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Semeru di G. Sawur atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang harap melakukan sosialisasi ke masyarakat yang berada di Dudun Supit, Rawa Baung dan yang beraktifitas dan bermukim di bantaran Besuk Kembar. Besuk Kobokan dan Besuk...