Gerakan Radikalisme Agama Sudah Menyebar ke Semua Kalangan...

Maraknya gerakan radikal Islam akhir-akhir ini telah banyak mengundang kekhawatiran banyak pihak. Tak hanya mempengaruhi kelompok tertentu namun sudah banyak menyasar semua golongan dan usia serta profesi. Pengamat gerakan radikalisme Islam Akhmad Muzzaki mengatakan pandangan selama ini yang mengatakan bahwa radikalisme hanya muncul pada orang-orang dengan ekonomi lemah harus dibuang jauh. Sebab saat ini radikalisme sudah mewabah di semua kalangan. “Setiap ada momentum mereka pasti bangkit. Dari sisi skala sekarang ini terorisme itu sangat dekat dengan kehidupan kita. Mereka tidak mengenal usia, latar belakang dan profesi,” kata Muzzaki kepada detikcom usai mengisi Kajian dan Diskusi Peta Gerakan Islam Radikal di Indonesia Pascareformasi di Gedung PWNU Jatim. “Kalau selama ini dianggap didominasi oleh kaum miskin. Faktanya semua kalangan masuk mulai dari ASN masuk terus profesi-profesi yang selama ini jarang tersentuh juga sekarang sudah masuk seperti kemarin seorang Polwan dari Maluku,” tambahnya. Tak hanya mengalami pergeseran mempengaruhi semua kalangan, pergeseran pola dalam melibatkan aksi terorisme juga telah mengalami perubahan. Hal itu terlihat saat muncul pada kasus bom Surabaya setahun lalu. “Setahun yang lalu persis menjadi titik puncak atas pergeseran pola. Dari orang dewasa melibatkan anak-anak, dari laki-laki dewasa melibatkan perempuan, dari mereka yang selama ini terlibat di gerakan sudah mulai menyasar yang lainnya. Saya menyimpulkan teroris sangat dekat dengan kehidupan kita,” terang pria yang juga menjabat sekretaris PWNU Jatim itu. Muzzaki juga menolak penyebaran paham radikalis disebabkan kurangnya pemahaman agama yang terpapar. Sebab menurutnya ada tiga level radikalis yang saling bertautan dalam penyebarannya. Ketiga level ini mempunyai berbagai faktor kenapa paham radikalis begitu mudah menerima atau saling menyebarkan. “Ada level ideolog, ada level tengah, ada level bawah. Level ideolog ini pemahamannya (agama) bagus. Orang seperti Maman Abdurahman itu hapal Alquran, ada Bahrun Naim orang-orang yang dengan level keagamaan di atas rata-rata. Nah, yang di bawah itu...

GP Ansor soal Menag: Jokowi Serius Berantas Radikalisme...

Gerakan Pemuda (GP) Ansor menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin serius menghadapi radikalisme dalam pembentukan Kabinet Indonesia Maju. Termasuk penugasan khusus terhadap Menteri Agama yang kini dijabat kalangan militer, Jenderal Purnawirawan TNI Fachrul Razi. Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan pemberian tugas khusus kepada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Menteri Agama (Menag), Menteri Pertahanan (Menhan), serta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) memperlihatkan bahwa pemerintahan Jokowi lima tahun ke depan serius ingin mengatasi perkembangan radikalisme di Indonesia. “Jokowi saya lihat serius untuk mengatasi berkembangnya radikalisme atau merebaknya ideologi radikal. Ini terlihat dengan ditugaskannya secara khusus Menko Polhukam, Menhan, Mendagri dan Menag untuk ikut menangani masalah radikalisme di masyarakat, khususnya di lingkup kementerian masing-masing,” kata sosok yang akrab disapa Gus Yaqut itu dalam keterangan tertulis, Jumat (25/10). Ia berterima kasih atas langkah ini. Menurutnya, penyebaran radikalisme di Indonesia sudah sangat mencemaskan dan membutuhkan keseriusan pemerintah dalam menghadapinya. Gus Yaqut melanjutkan, keseriusan pemerintah menghadapi radikalisme ini sekaligus meringankan tugas GP Ansor yang selama ini memerangi kelompok radikal. “Karena negara sudah memastikan menangani serius masalah ini, maka tugas kami kini menjadi ringan,” ujar Gus Yaqut. Dia menambahkan, GP Ansor akan merespons keseriusan pemerintah menghadapi radikalisme dengan menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas) dalam waktu dekat guna melakukan konsolidasi, penguatan kaderisasi, dan kemandirian organisasi. “Saya meminta kini saatnya kembali melakukan konsolidasi, kaderisasi, dan mempercepat kemandirian organisasi,” ucap dia. Sebelumnya, Jokowi menyatakan alasan memilih mantan Wakil Panglima TNI Jenderal (Purnawirawan) Fachrul Rozi di kursi Menag ialah lantaran ingin permasalahan radikalisme dan intoleransi bisa benar-benar diatasi secara kongkret oleh Kemenag. “Tapi termasuk di dalamnya perbaikan kualitas pelayanan haji,” kata Jokowi kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/10). Mantan gubernur DKI Jakarta itu berharap Fachrul dapat berbicara banyak terkait perdamaian hingga soal toleransi di antara masyarakat. Di...

Lampu Merah Radikalisme Wahabisme Salafi...

Setelah jatuhnya korban penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto,  Kapolsek Menes Kompol Daryanto, Ulama Pandeglang Fuad, dan ajudan Bapak Danrem. Dan saya yakin mereka para pelaku terpapar Wahabisme Salafisme Sejarah panjang berdarah Wahabisme salafi adalah sejak pemberontakan terhadap Khilafah Turki Ustmani. Bom bali dan semua gerakan terror di nusantara, yang terahir kejadian penusukan terhadap Menkopolhukam. Wahabi Salafi bukanlah Ahlussunnah Wal jama’ah seperti yang mereka akui di Indonesia. Muktamar Internasional Ahlussunnah di Chechnya Muktamar Internasional Ulama Muslim (bahasa Arab: المؤتمر العالمي لعلماء المسلمين‎) atau Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah, yang lebih dikenal dengan Konferensi Chechnya (bahasa Arab: مؤتمر الشيشان‎), adalah muktamar yang diselenggarakan di Grozny, ibu kota Republik Chechnya pada 25-27 Agustus 2016 membahas judul “Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah? Penjelasan dan Klasifikasi Metode Ahlussunnah Waljamaah dalam Aqidah, Fikih, dan Akhlak, serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas”.[1][2] Muktamar ini dihadiri Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia.[3] Mesir juga menghadiri perjumpaan ini dengan mengutus para ulama terkemuka Universitas Al-Azhar, Kairo. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Republik Chechnya Ramadhan Ahmed Kadyrov dalam rangka mengenang dan memperingati Presiden Ahmad Haji Kadyrov.[4][5][6] Para peserta konferensi mengeluarkan fatwa yang secara resmi menegaskan bahwa aliran Wahabi bukan bagian dari Ahlussunnah Wal Jamaah.[7] Para peserta mengatakan dengan tegas bahwa ada beberapa power regional dan internasional. Yang merusaha menyulut konflik sektarian dan mazhab di tengah negara-negara Islam. Untuk melayani ambisi musuh ummat Islam dan untuk kepentingan-kepentingan sempit. Muktamar kali ini dihadiri lebih dari 200 ulama seluruh Dunia. Diantaranya ialah:[8] Syeikh al-Azhar al-Imam al-Akbar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Tayyeb.Mufti Mesir, Syiekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam.Mantan Mufti Mesir, Syeikh Prof. Dr. Ali Jum’ah.Mufti Syiria, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun.Syeikh Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syeikh al-Syahid M. Sa’id Ramadhan al-Buthi.Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Umar ibn Hafidz, Yaman.Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Ali al-Jufri, Yaman.Syeikh Prof. Abu Bakr Ahmad Musliyar, Kerala–Hindia, Sekjen Jam’iyyah Ulama’ al-Hind.Syeikh Prof. Dr. Ahmad al-‘Abbadi, Sekjen Robithoh Muhammadiyah lil-Ulama’, Maroko.Syeikh Dr. Usamah al-Sayyid al-Azhari, Mesir.Syeikh Prof. Dr. Syarif Hatim al-Auni, Saudi Arabia.Syeikh Dr. Sa’id Abdullatif Foudah, Yordania.Dan Ulama’-ulama’ lain dari seluruh Dunia termasuk...

Fakta Bripda Nesti, Polwan yang Terpapar Paham Radikal ISIS...

Jakarta – Seorang polisi wanita (Polwan) bernama Bripda Nesti Ode Samili (NOS) diamankan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri di Solo dikarenakan terindikasi terpapar paham ISIS. Bripda Nesti diduga menyebarkan paham radikal ke rekan kerjanya sesama polisi dan polwan. Sejauh apa paham tersebut mempengaruhi tingkah lakunya, pemeriksaan terus dilakukan tim Densus 88. “Kita masih dalami apa dia sudah terafiliasi kepada jaringan terorisme yang di dalam negeri. Apa dia juga sudah menularkan paham-paham itu ke teman-teman di kepolisian yang lain,” ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Mabes Polri. Sebelum diamankan, Polwan ini sehari-hari bertugas di Satuan Logistik Polda Maluku Utara. Akibat kasus yang menjeratnya, Bripda Nesti kini terancam dipecat dengan tidak hormat dari kesatuannya. “Yang bersangkutan secara aturan di internal kami sedang menuju sidang kode etik dan nanti akan direkomendasikan di PTDH,” tegas Asep, Kamis kemarin. Berikut fakta-fakta terkait Bripda Nesti Ode Samili, anggota Polwan yang diduga terpapar paham ISIS: Polwan yang bertugas di Polda Maluku Utara itu kini sedang dalam penanganan Densus 88 Anti Teror. NOS ditangkap di Solo. Menurut keterangan yang didapat oleh pihak kepolisian, Bripda Nesti diduga sudah terpapar paham radikalisme sejak 1 tahun yang lalu. Hal ini diungkap oleh Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Mabes Polri. Berdasar catatan Polri, ini kedua kalinya polwan terduga teroris itu berurusan dengan Densus 88 Antiteror. “Seperti kita ketahui bahwa yang bersangkutan diamankan oleh pihak kepolisian karena meninggalkan tugas atau desersi, setelah itu dilakukan penindakan. Dalam hal ini penegakan hukum disiplin terhadap yang bersangkutan. Setelah selesai lalu dilakukan pembinaan. Namun,rupanya selama dalam pembinaan tersebut dia terpapar kembali,” ungkap Asep. Asep menjelaskan, Densus 88 sedang mendalami keterangan dari Bripda Nesti Ode Samili. Beberapa informasi telah dikantongi. “Sementara yang sudah dapat, dia...