Soeharto sang pengaman Ibnu Sutowo dalam korupsi Pertamina...

Mochtar Lubis lewat Harian Indonesia Raya berusaha menguliti dan membongkar kasus korupsi di Pertamina yang dilakukan Ibnu Sutowo. Dua koper bukti dugaan korupsi di perusahaan milik negara itu disodorkan, tapi toh Ibnu Sutowo tetap melenggang kangkung dan menikmati hasil korupsinya. Di eranya, Ibnu Sutowo yang menjabat Dirut Pertamina seperti orang kebal hukum. Meski diberitakan habis-habis, Ibnu yang dikenal irit bicara ini tidak pernah diperiksa atas sederet kasus korupsi bahkan hingga menyeret kebangkrutan Pertamina. “Tidak ada yang penegak hukum yang saat itu memeriksa atau memanggil dia atas berita korupsi yang kami beritakan. Tidak ada, dia seperti kebal hukum,” ujar mantan Redaktur Pelaksana Harian Indonesia Raya, Atmakusumah saat berbincang di redaksi merdeka.com, Tebet Barat IV nomor 3, Jakarta Selatan, Selasa (29/10). Bukan tanpa alasan penegak hukum di era itu mandul, Harian Indonesia Raya pada 30 Januari 1970 memberitakan bahwa simpanan Ibnu Sutowo mencapai Rp 90,48 milyar. Namun bukan karena hanya uang yang melimpah Ibnu Sutowo kebal hukum. “Saat itu dia memang dekat dengan Soeharto. Bahkan saya kira dia (Ibnu Sutowo) dan Soeharto saling pegang kartu truf,” terang Atma yang fasih bercerita meski telah berusia 75 tahun itu. Mochtar Lubis sendiri dalam buku, Mochtar Lubis bicara lurus: Menjawab pertanyaan wartawan pernah menyebut bahwa Jaksa Agung Saat itu juga tak berkutik kepada Ibnu Sutowo. Dalam buku tersebut, Mochtar menyebut Jaksa Agung saat itu Ali Said tidak berbuat apa-apa soal dugaan korupsi yang dilakukan Ibnu Sutowo. “Waktu kami ramai-ramai membongkar, pemerintah diam saja. Padahal waktu itu kami sudah serahkan (kepada pemerintah) lembaran-lembaran bukti tertulis mengenai kasus korupsi Pertamina. Kami kirim ke Jaksa Agung, kami kirim ke panitia tujuh yang dipimpian oleh Almarhum Wilopo,” ujar Mochtar Lubis dalam buku tersebut. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Atma. Menurutnya di tahun 70 an, Soeharto bukan hanya pemegang kekuasaan eksekutif saja, tetapi semua...

Manusia orba setengah dewa ibnu sutowo...

Orde Baru dan segala seluk beluknya memang belum sepenuhnya dapat terungkap. Suharto dan keluarga Cendana nya diduga telah menyalahgunakan kekuasaannya saat itu untuk memperkaya diri, keluarga dan beberapa orang terdekat nya. melalui beragam modus dan operandi bisnis, Suharto dan kroninya menjadikan BUMN menjadi layaknya perusahaan pribadi. Salah satu “ATM” Orde Baru yaitu Pertamina. Awalnya Pertamina merupakan sebuah perusahaan tambang yang terletak di Sumatra Utara yang bernama PT Eksplotasi Tambang Sumatera Utara. perusahaan ini sementara berada di tangan ABRI. untuk menjaga kilang minyak dari perbuatan sabotase dan penambangan minyak ilegal, pada 10 Desember 1957 KSAD Jend. Nasution memerintahkan Panglima TT 2 Sumatra Selatan (Sekarang Kodam Sriwijaya) Kolonel Ibnu Sutowo untuk mengambil alih pucuk pimpinan. pada perkembangan selanjutnya, perusahaan tersebut berubah nama menjadi Permina (Perusahaan Minyak Negara). selanjutnya permina berkembang menjadi perusahaan raksasa yang menjadi penyumbang besar devisa bagi negara melalui sektor barang tambang. Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta, 23 September 1914 – meninggal di Jakarta, 12 Januari 2001 sendiri sebenarnya terbilang baru dalam dunia militer. awalnya Ibnu Sutowo adalah seorang dokter, lulusan dari Surabaya. awalnya ia mengabdi sebagai dokter di Palembang dan Martapura. Setelah masa kemerdekaan, ia sempat bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). selanjutnya menduduku panglima TT 2 Sumatra Selatan. perkenalannya dengan minyak dimulai pada perkenalannya dengan Mayor Johanes Marcus Pattiasina. dia adalah satu di antara segelintir manusia Indonesia yang bekerja di bidang perminyakan di zaman Hindia Belanda. Pattiasina termasuk pemuda Republiken yang ikut serta dalam sejarah perusahaan minyak Indonesia di awal-awal proklamasi. dia ikut serta dalam pendirian Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri) di Sumatera Selatan. Permiri pertama kalinya didirikan di Kenten, Palembang pada 1945 kemudian disusul dengan berdirinya perusahaan yang sama di Prabumulih dan di daerah Jambi. Pattisina dipercaya oleh Ibnu Sutowo untuk menduduku posisi menejer permiri sebelum ahirnya berganti...

Keluarga Sutowo Contoh Konspirasi Paling Sadis yang Sukses di Jaman Orba...

Nama Adiguna Sutowo (40-an tahun) mencuat seiring kasus penembakan yang diduga dilakukannya di Club and Lounge Fluid Hotel Hilton, Jakarta. Siapa Adiguna?Dibanding Pontjo Sutowo, abangnya, nama Adiguna masih kalah pamor. Bahkan selama ini Adiguna lebih dikenal sebagai pereli nasional. Anaknya, (alm) Adri Sutowo pun menitis darah ini. Nama Adiguna memang tak bisa lepas dari Ibnu Sutowo, eks Dirut PT Pertamina dan pensiunan jenderal bintang tiga era Soeharto. Dari perkimpoiannya dengan Zaleha binti Syafe’ie, yang dinikahinya pada 12 September 1943, Ibnu mendapatkan 7 anak. Mereka adalah Nuraini Zaitun Kamarukmi Luntungan, Endang Utari Mokodompit, Widarti, Pontjo Nugroho Susilo, Sri Hartati Wahyuningsih, Handara, dan Adiguna. Seperti saudara-saudaranya yang lain, si bungsu Adiguna pun berkecimpung dalam bisnis. Dia tercatat sebagai bos perusahaan farmasi PT Suntri Sepuri. Perusahaan yang didirikan pada 1998 ini memproduksi tablet, kapsul, sirup dan suspensi, sirup kering/serbuk injeksi beta laktam. Dan membicarakan bisnis Adiguna, mau tak mau harus membicarakan bisnis keluarga Ibnu Sutowo. Pasalnya, bisnis Adiguna dibangun bersama-sama dengan anggota keluarganya yang lain. Keluarga Ibnu Sutowo ketika Orba masih berkuasa, mempunyai sedikitnya 20 perusahaan. Ini termasuk PT Adiguna Shipyard (galangan kapal, pengadaan fiber glass kapal) dan PT Adiguna Mesin Tani (agicultural). Keluarga ini juga pemilik PT Indobuild Co (real estate, hotel) yang menguasai hak pengelolaan lahan di seputar Senayan – lokasi hotel, apartemen dan convention center. Keluarga Ibnu Sutowo lebih dikenal lewat konglomerasi Grup Nugra Santana (bursa saham, pemasaran, manajemen properti, investasi bangunan). Di bawah grup inilah keluarga Sutowo menguasai penjualan dan pemasaran operasional 5 hotel kelas atas: Jakarta Hilton International Hotel, Lagoon Tower Jakarta Hilton International, The Hilton Residence, Patra Surabaya Hilton International dan Bali Hilton International. Ekspansi besar-besaran dimotori Pontjo Sutowo. Tapi pada 1997, kibaran bisnis keluarga Ibnu Sutowo melorot. Majalah Swa edisi November 2004 lalu menulis, tragedi Bank Pacific yang dimotori Endang...

Ibnu Sutowo Gurita Orba Yang Pendiam...

Karier Ibnu Sutowo sebagai Direktur Pertamina tamat setelah Presiden Soeharto mencopotnya. Langkah ini diambil karena perusahaan minyak milik negara itu berhutang hingga USD 10,5 miliar pada tahun 1975. Bau tengik korupsi pun merebak.Permainan kotor pensiunan jenderal bintang TNI AD itu pun terendus. Lewat setumpuk dokumen yang dimiliki, Harian Indonesia Raya mewartakan berita penyelewengan di Pertamina secara konsisten selama empat tahun. Rupanya ini cukup membuat Ibnu gerah.Kala pada awal tahun 1970-an, Atmakusumah menjabat sebagai Redaktur Pelaksana di koran tersebut. Menurutnya, Ibnu tak pernah bersedia diwawancara wartawan Indonesia Raya. “Saat konferensi pers pun Ibnu tidak banyak bicara. Ibnu justru terkesan hati-hati,” ujar Atmakusumah.Pada 30 Januari 1970, Indonesia Raya memberitakan simpanan Ibnu Sutowo mencapai Rp 90,48 miliar (kurs rupiah saat itu Rp 400/dolar), jumlah yang sangat fantastis. Harian yang akhirnya dibredel itu juga melaporkan kerugian negara akibat kerjasama Ibnu Sutowo dengan pihak Jepang mencapai USD 1.554.590,28.Meski begitu, menurut Atmakusumah, kehidupan Ibnu dan keluarganya jauh dari hura-hura. Bahkan, Ibnu yang sangat dekat dengan keluarga Cendana tidak pernah tampil menunjukkan gelimangan hartanya di Tanah Air. “Gaya hidupnya tidak mencolok. Bahkan tidak kelihatan seperti koruptor sekarang,” kata Atmakusumah.Setelah lengser Ibnu tak pernah terjerat hukum. Ali Said, Jaksa Agung kala itu menolak mentah-mentah dokumen penyimpangan di Pertamina yang ditawarkan oleh Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Mochtar Lubis. Sampai akhir hayat Ibnu pun tetap bisa hidup tenang. “Dia tidak memiliki banyak musuh, karena dia (Ibnu) orangnya royal,” tutur Atmakusumah yang menduga antara Ibnu dan Soeharto sama-sama memiliki kartu truf.Begitu kuatnya Ibnu, Atmakusumah melihat karena Ibnu memiliki jaringan kuat di angkatan darat. Adalah Kepala Staf Angkatan Darat AH Nasution yang memberi perintah Ibnu Sutowo mengelola PT Tambang Minyak Sumatera Utara (PT Permina). Baru pada tahun 1968, perusahaan ini bergabung dengan perusahaan minyak milik negara lain hingga menjadi PT Pertamina. Ibnu menyeret Pertamina menuju bisnis lain di luar bidang minyak. Mulai dari hotel, restoran, asuransi, biro perjalanan. Ternyata hasilnya anjlok. “Ibnu Sutomo merupakan orang yang...

Golkar ngedate dengan LDII...

Meskipun ini berita agak kadaluwarsa, tapi masih bisa kita analiasa dua raksasa ini bercumbu dan saling berbelit dalam politik Indonesia. Partai Golkar terus melakukan gerakan politik dengan mengunjungi sejumlah organisasi kemasyarakatan guna menampung  isu-isu strategis, salah satunya dengan mengunjungi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sebuah lembaga yang dianggap sesat oleh sebagian besar ulama Indonesia. Hal ini, ucap Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, menjadi penting guna memberikan masukan kepada pemerintah dari berbagai bidang. “Ini politik kebangsaan kita sebagai partai politik yang ada di parlemen ingin menerima berbagai masukan isu. Dimana LDII sebagai pion dakwah, juga memiliki kegiatan keekonomian, lingkungan hidup, ketahanan pangan, dan lain-lain,” ucap Airlangga di kantor DPP LDII, Jakarta, Senin (4/2/2019) malam. Airlangga mengatakan, pihaknya siap menampung aspirasi-aspirasi dari LDII selaku organisasi masyarakat. Dia berencana akan menyampaikannya ke anggota fraksi di DPR maupun yang sedang proses nyaleg. “Kami menyediakan diri untuk menerima aspirasi dari LDII untuk diperjuangkan di parlemen sehingga kader-kader Partai Golkar nanti diminta untuk membawakan aspirasi dari LDII,”...

Mengenal LDII jilid2

Paham keagamaan yang dikembangkan oleh LDII dianggap kontroversial dan meresahkan masyarakat di berbagai daerah, karena dianggap masih mengajarkan paham Darul Hadits / Islam Jama’ah yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/ 1971 tanggal 29 oktober 1971) Setelah aliran ini dilarang pada tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972, selanjutnya LEMKARI 1972 tersebut berganti nama lagi dengan Lembaga Karyawan Dakwah Islam pada tahun 1981 yang disingkat juga dengan LEMKARI (1981). Kemudian berganti nama lagi dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1990 sampai sekarang. Pergantian nama tersebut dikaitkan dengan upaya pembinaan eks Darul Hadits /Islam Jama’ah yang telah meninggalkan Darul Hadits / Islam Jama’ah yang telah dilarang bedasarkan SK Jaksa Agung RI yang telah disebutkan di atas. Di antara pokok ajaran dan praktek keagamaan mereka ada hal-hal yang dianggap menyimpang dari kemurnian ajaran Islam, 2 terutama yang dianut kaum muslim Indonesia. Atas dasar inilah penulis termotivasi untuk menelusuri hakikat LDII yang tentunya tetap mengedepankan obyektifitas data dan fakta sejarahnya, di samping itu juga menyajikan beberapa pendapat tokoh, wawancara tertutup dengan salah seorang Muballigh, Khotib dan Imam masjid LDII Kota Palembang. Adapun permasalahan yang akan dikemukakan dalam tulisan ini adalah; bagaimana hakekat LDII, sejarah, ajaran pokok dan praktek keagamaannya; yang meliputi asal- usul lahirnya, nama-namanya, perkembangannya, pokok-pokok ajaran dan perilaku sosial keagamaan, serta beberapa Pendapat tokoh tentang LDII. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui hakekat LDII; sejarah munculnya, nama-nama dan perkembangannya, ajaran pokok dan prilaku sosial keagamaan, serta beberapa pendapat tokoh tentang LDII. Dengan demikian diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi yang benar dan sesuai dengan Keberadaan LDII disinyalir mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan oleh H. Nurhasan al-Ubaidah Lubis pada tahun Keberadaan LDII disinyalir mempunyai...