Kisah Cinta Abadi Sang Pencinta dan Sang Kekasih...

Karya Syaikh Sufi Mawlana Hakim Nizhami Oleh Medan 116 Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anak pun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.” Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.” Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis. Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini. Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila- “Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun. Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila. Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang- orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar. Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, “ Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila” Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, di samping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat. Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri. Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat- sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya. Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita- wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya. Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais di dalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat- sahabat terbaiknya, tentang cintanya. Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu. Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi. Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu. Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya. Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar. Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”. Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?” Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.” Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila. Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya. Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orangtuanya dan sahabat- sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini. Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepadaMu satu hal saja; Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya. Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih- alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal di reruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal di dalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang- binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi. Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, “Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan. Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu. Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan perjalanannya. Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang- orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keterangan rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya. Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak, Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh di bawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah...

Sebuah Catatan Pojok M. 307...

Oleh : Margunadi, Medan 307 Kegiatan Diklat lapangan Satgascab 1333 GM FKPPI yang dibantu UBKM yang dilaksanakan mulai tgl 27 Maret malam jam 22.00. dengan pelaksana yang diperbantukan dari UBKM berjumlah 5 personil yakni M.121, M.307, M.515, M.603, M.606. Untuk rekan-rekan UBKM melaksanakan kegiatan dengan dibagi d pos pantau 1 hingga 4. Untuk pos 1 diisi oleh M.515 Pak Mashudi, Pos 2 M.307 saya sendiri, pos 3 M.121 Pak Bambang, sedangkan untuk pos 4 diisi oleh M.606 bapak Imam, Sedangkan untuk M.603 Pak Marno ikut dalam tim penyapu. Jadwal Kegiatan Tepat 22.00 peserta satgascab yang berjumlah 20 personil berkumpul di basecamp untuk melaksanakan Gladi bersih selama 60 menit 23.00 para peserta diklat melaksanakan persiapan navigasi malam dengan formasi 1 kelompok 5 personil dengan dibekali kompas dan peta 23.30 kelompok pertama digerakkan dari titik awal yakni Basecamp, dilanjutkan oleh kelompok kedua dan seterusnya dengan jeda waktu 10 menit perkelompok. Sedangkan untuk Rute Kegiatan diklat adalah sebagai berikut; start dari basecamp menuju ke pos 4 yang dipantau oleh M.606, Setelah itu melanjutkan ke pos 3 dibawah pantauan M.121 kemudian ke pos 2 dibawah pengawasan saya sendiri, kemudian dilanjutkan ke pos 1 dibawah pantauan M.515 dan berahir di basecamp api unggun. Base camp api unggun adalah base camp pos ahir/finish dimana para peserta melepaskan lelah sambil membakar jagung yang sebelumnya sudah dibagi masing masing peserta 3 buah jagung mentah, nasi bungkus dan air mineral dengan penekanan dilarang keras membuang sampah di area hutan dengan cara dilakukan pengecekan perbekalan dan sampah dijalur yang dilalui oleh tim penyapu. 28 februari pagi Sekitar jam 06.00 semua peserta bersiap kembali dari basecamp api unggun/finish ke Basecamp titik awal/start tepat 7.30 semua peserta sudah sampai dibasecamp awal, disambut oleh panitia kemudian dilakukan upacara pelantikan Oleh Bapak Rudi Nugroho selaku ketua GM FKPPI...

Ria Rago, Siti Nurbaya Dari Flores...

KAWIN PAKSA merupakan salah satu tema utama yang mendominasi tulisan-tulisan Kesusastraan Indonesia Angkatan Balai Pustaka. Tahun 1922, PN Balai Pustaka menerbitkan karya mengagumkan karangan Marah Rusli berjudul: SITI NURBAYA, Kasih Tak Sampai. Setiap anak Indonesia yang pernah duduk di bangku sekolah sampai tingkat SMA, tentu pernah dianjurkan untuk membaca buku Marah Rusli ini, atau paling tidak mengetahui sinopsis (ringkasan) ceritanya: Baginda Sulaiman terpaksa menikahkan putrinya Siti Nurbaya yang masih remaja dengan Datuk Maringgih, seorang saudagar tamak berumur enam puluh tahun hanya karena masalah utang-piutang. Ketika mengetahui bahwa Siti Nurbaya mengutuk dan menolak perkawinan terpaksa ini, Datuk Maringgih menyewa pesuruh-pesuruhnya meracun gadis tidak berdosa itu. Siti Nurbaya mati meninggalkan kekasihnya Samsulbahri, sehingga cinta mereka yang tulus tidak sampai terwujud. Apa yang ditulis Marah Rusli dalam novelnya itu, merupakan kritikan dan sindiran pedas terhadap praktek kawin paksa yang sedang marak pada saat itu dalam masyarakat tradisional Minangkabau di Sumatra Barat. Tetapi sesungguhnya kawin paksa di jaman itu, bukanlah monopoli orang Padang. Kawin paksa justru menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Hindia Belanda(nama Indonesia pada jaman penjajahan) yang sangat menindas dan membelenggu kaum perempuan di seluruh negeri. Tahun 1924, Ria Rago, anak gadis remaja seorang Mosalaki dari Nua Nellu di Ndona-Flores, mati mengenaskan setelah disiksa dan dipasung berbulan-bulan oleh ayah-ibunya, Rago DA’O dan Enga PADI, karena menolak pinangan Dapo DHOKI, seorang Mosalaki yang telah beristri-anak dari kampung Rada Wuwu. Oleh karena masyarakat Flores pada saat itu masih buta aksara, maka kisah nyata ini tidak dinovelkan seperti apa yang dibuat oleh Marah Rusli, tetapi langsung difilemkan oleh dua pastor Misionaris SVD berkebangsaan Jerman, P. BELTJENS dan P. BUIS, pada tahun 1929, delapan puluh sembilan tahun lalu. Dramatisasi pemaksaan kehendak orang tua terhadap anak dan siksaan fisik melempaui daya tahan seorang anak manusia, sangat menonjol dalam filem bisu...

Etika Dalam Berlalu Lintas...

Oleh Medan 619 Kita hidup bermasyarakat, artinya kita hidup bersama orang lain. Karena itu etika, sopan santun, tenggang rasa mutlak diperlukan termasuk dalam penggunaan jalan umum dan kendaraan bermotor. Berikut beberapa etika dalam berlalu lintas berdasarkan uu/22/2009 & vademikum lantas   TATA CARA BERBELOK (pasal 112 uu/22/2009): Akan membelok / balik arah atau pindah lajur hrs mengamati situasi lalin didepan, samping, belakang serta memberi isyarat Pada persimpangan jalan yg dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalulintas pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu atau alat pemberi isyarat Lalu Lintas pengatur belok kiri   TATA CARA MENYALIP (pasal 109 uu/22/2009):  Mempunyai pandangan bebas dan menjaga ruang yg cukup bagi kendaraan yang dilewati Mengambil jalur/lajur kanan dari kendaraan yg dilewati Dapat mengambil lajur/jalur kiri apabila : Lajur kanan dlm keadaan macet Bermaksud belok kiri   TATA CARA BERPAPASAN (pasal 110-111 uu/22/2009): Pengemudi yg berpapasan degan kendaraan yang berlawanan arah pada jalan dua arah yang tidak dipisahkan secara jelas, harus memberi ruang gerak yang cukup Bila terhalang rintangan didepannya, harus mendahulukan kendaraan yg datang berlawanan Pada jalan tanjakan atau menurun yang tidak mungkin bagi kendaraan saling berpapasan, kendaraan yang arahnya turun harus memberi kesempatan   PRIORITAS PENGGUNA JALAN UMUM (pasal 134 uu/22/2009): Pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas Ambulans yang mengangkut orang sakit Kendaraan pertolongan laka lantas Kendaraan pimpinan Lembaga Negara RI Kendaraan pimpinan & pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara Iring-iringan pengantar jenazah Konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentjngan tertentu menurut pertimbangan petugas POLRI   KEWAJIBAN JIKA TERLIBAT KECELAKAAN: Segera hentikan kendaraan Beri pertolongan kepada korban Menghubungi kantor polisi terdekat Dalam keadaan yang memaksa / membahayakan bisa melanjutkan perjalanan menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadiannya serta minta perlindungan dan keamanan  ...