Para Srikandi yang bernama Muslimat NU Mar25

Para Srikandi yang bernama Muslimat NU...

Para muslimah Indonesia andai saja bersedia rujuk dengan sejarah tidak hanya terperangkap dengan masalah Khilafah dan ISIS, mereka pasti akan menemukan identitas jejak yang jelas dari para pendahulunya. Kaum muslimah yang berpijak, beranjak, dan berjejak membela agama dan negaranya. pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang, semangat imprerialisme penjajah rupanya masih begitu kuat mencengkeram, membangkitkan semangat kemerdekaan yang meluap-luap dalam diri rakyat, menggolakkan pertempuran di berbagai tempat. Salah satu Ormas Islam, Nahdlatul Ulama (NU) bahkan mengeluarkan RESOLUSI JIHAD, “bahwa mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Islam termasuk sebagai suatu kewadjiban mutlaq bagi tiap-tiap orang Islam laki-laki dan perempuan.” Perlawanan rakyat 10 November 1945 pun akhirnya meletus di Surabaya. Kaum Nahdiyyin dan Nahdiyyat ikut mempertahankan kemerdekaan dengan segala apapun yang ada. NU bergabung dalam pasukan-pasukan pejuang Hizbullah dan Sabilillah memanggul senjata melawan musuh. Semangat perjuangan fi sabilillah (di jalan Allah) yang dihidupkan para Ulama menerjunkan anak-anak muda dan para wanita NU ke gelanggang perjuangan. Jika kaum laki-laki berjuang di garis depan, maka kaum wanita berjuang di garis belakang. Kaum wanita bekerja di di berbagai lapisan seperti dapur umum, palang merah, mengumpulkan pakaian dan makanan, memberi penerangan ke sana sini, serta menghidupkan semangat perjuangan melawan musuh. Sebagaimana organisasi-organisasi pejuang perempuan Indonesia, NU pun mengorganisir perempuan-perempuannya. Kaum perempuan NU ditata sedemikian rupa agar menjadi barisan imaadul bilaad, perempuan itu laksana tiang negara. Apabila dia baik, negerinya baik. Dan apabila dia rusak, negeranya pun rusak binasa. Perempuan-perempuan ahlussunnah wal jamaah digerakkan NU menurut ajaran Islam agar turut menyerahkan darma baktinya membela tanah air, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, “Perempuan memikul kewajiban-kewajibannya seperti kewajibannya laki-laki.” dan “Laki-laki mendapat bagian dari usahanya, perempuan pun mendapat bagian dari hasil kerjanya.” Oleh karena itu, meski negara dalam keadaan diserang, maka Muslimaat NU pun diwajibkan berjuang mempertahankan kemerdekaan sesuai dengan kodrat...

Candu Dalam Pergerakan Perjuangan Kemerdekaan RI Aug24

Candu Dalam Pergerakan Perjuangan Kemerdekaan RI...

Candu adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah tanaman Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum yang belum matang. Candu dalam istilah umum disebut sebagai opium yang berasal dari bahasa latin apion. Orang Jawa menyebutnya apyun apabila masih mentah dan candu atau madat apabila sudah matang. Bila candu diracik dan dicampur bahan lain seperti daun awar-awar, kecubung atau lengkeng disebut dengan tike. Candu berasal dari Asia Barat dan penyebarannya dilakukan oleh orang Arab sejak sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Candu juga menjadi komoditas unggulan dimasa kolonial. Umumnya orang Tionghoa yang memegang peranan penting dalam perdagangan candu di Hindia Belanda. Pada masa revolusi, Indonesia mengalami blokade ekonomi dari sekutu yang membuat pemerintah RI tdk dpt melakukan kegiatan perdagangan internasional dan menghancurkan perekonomian di Indonesia. Blokade ini memaksa pemerintah RI melakukan penyelundupan hasil-hasil perkebunan ke luar negeri terutama Singapura. Hasil-hasil perkebunan yang diselundupkan tentunya kurang mencukupi kebutuhan dana perjuangan, sehingga pemerintah RI pun harus menyelundupkan candu di antara hasil” perkebunan. Candu dianggap sebagai komoditas yang dapat memberi dana segar yg besar dan cepat. Menteri Keuangan RI Mr. A.A. Maramis meminta Kepolisian utk membantu memperdagangkan candu yang akan digunakan untuk membiayai delegasi Indonesia ke luar negeri, membiayai delegasi Indonesia di Jakarta, dan memberi gaji pegawai” RI. Selain itu, candu juga digunakan untuk membeli peralatan senjata yang diharapkan dapat menambal kekurangan senjata yang hanya berasal dari rampasan persenjataan tentara Jepang. Untuk itu Pemerintah membentuk kantor” regi candu di beberapa kota, diantaranya Kantor Regi Candu dan Garam di Kediri, Kantor Besar Regi Candu dan Garam di Surakarta, dan Kantor Depot Regi Candu serta Obat di Yogyakarta. Kantor-kantor ini mulai aktif di akhir tahun 1947. Kedudukan Kantor Regi Candi dan Garam di Surakarta lebih tinggi dibandingkan dengan Kantor Regi Candu dan Garam Kediri serta Kantor Depot Regi Candu dan...

Daan Mogot Dec14

Daan Mogot

Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928 ini dibawa oleh kedua orang tuanya ke Batavia (Jakarta) saat berumur 11 tahun. Daan Mogot adalah anak dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut). Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang. Di umur 14 tahun (tahun 1942) Daan Mogot masuk PETA (Pembela Tanah Air) yaitu organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, walaupaun sebenarnya ia tak memenuhi syarat karena usianya belum genap 18 tahun. Oleh prestasinya yang luar biasa ia diangkat menjadi pelatih PETA di Bali. Kemudian dipindahkan ke Batavia. Saat kejatuhan Jepang dan selepas Proklamasi 1945, Daan Mogot bergabung dengan pemuda lainnya mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Uniknya saat itu Daan Mogot baru berusia 16 tahun namun sudah berpangkat Mayor. Malang tak dapat ditolak, saat ia berjuang membela negeri ini, ayahnya tewas dibunuh oleh para perampok yang menganggap “orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda. Kesedihannya itu ia sampaikan pada sepupunya Alex Kawilarang. “Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex Kawilarang. “Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” kata Daan Mogot. “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.” Daan Mogot berkeinginan mencurahkan pengetahuannya, apa yang dulu didapatkannya saat masih dibawah PETA. Ia ingin mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara. Dan keinginan besarnya itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Akademi Milter di Tangerang 18...

Happy Milad Ke-35 FKPPI…! Sep12

Happy Milad Ke-35 FKPPI…!

Alkisah 34 tahun yang lalu, pada saat PEPABRI melakukan Munas ke VII tanggal 20 Juni 1977 di Asrama Haji Bukit Duri Jakarta Selatan, ada 7 sahabat yang merupakan anak dari anggota PEPABRI (pensiunan TNI-POLRI jaman itu) berkeinginan membentuk satu wadah pembinaan anak-anak pensiunan ABRI. Mereka ini adalah: Surya Paloh J.P. Yoseano Waas Tjokro Supriyanto Karel S. Waas Wisnu Batubara Haribowo. Agus Santoso Setelah melewati proses dan diskusi panjang maka disepakatilah untuk diberi nama  Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) yang diumumkan dan disahkan pada tanggal 12 September 1978 saat ulang tahun PEPABRI di Gedung Wanita Nyi Ageng Serang Kuningan Jakarta. Saat Munas III di Magelang tanggal 10-13 November 1987 kepanjangan FKPPI yang awalnya Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia, berubah menjadi Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri ABRI. Pada tanggal 12 September 1995 diadakan Musyawarah Luar Biasa (Muslub) dalam rangka memutuskan langkah-langkah taktis pemetaan anggota FKPPI Salah satu langkah penting dalam Muslub tersebut adalah merubah nama FKPPI menjadi Generasi Muda FKPPI (GM-FKPPI) dan pada saat yang bersamaan dibentuklah wadah baru yang bernama FKPPI sebagai wadah berhimpun bagi anggota FKPPI yang berusia 40 tahun keatas yang dideklarasikan pada saat peringatan HUT FKPPI ke-17 pada tanggal 12 September 1995 di Balai Sidang Senayan Jakarta. Kedua organisasi ini mempunyai lambang yang berbeda dan AD/ART yang berbeda pula, namun dilahirkan dari sumber yang sama dengan tujuan yg sama. Hanya perbedaan usia anggotalah yang membedakannya. Walhasil “Selamat Milad, Jangan Lupa Sejarah dan Jaya...

Menjelang Proklamasi 17 Agustus ’45 Aug17

Menjelang Proklamasi 17 Agustus ’45...

Seorang penulis Belanda, Bob Hering, dalam bukunya berjudul “Soekarno,Founding Father of Indonesia 1901- 1945″ (terbitan Koninklijk Instituut voorTaal, Land and Volkenkunde/KITLV Press, Leiden, 2002) di halaman 364mencatat pada 10 Agustus 1945 Soetan Sjahrir memberitahu (penyair) ChairilAnwar tentang telah dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan bahwa Jepangtelah menerima ultimatum dari Sekutu untuk menyerah.Sjahrir mengetahui hal itu melalui siaran radio luar negeri, yang ketika ituterlarang. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda (terutamapara pendukung Syahrir.)Sekembali mendampingi Ir Soekarno dan Radjiman ke Dalat (250 km di sebelahtimur laut dari Saigon), pada 14 Agustus Hatta menceritakan kepada Sjahrirtentang hasil pertemuan di Dalat pada tanggal 11 Agustus di mana Jepangmelalui Marsekal Terauchi mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjimanbahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia (dapat dilaksanakan) dalam beberapahari.Sjahrir mengomentari hasil pertemuan Dalat sebagai tipu busuk Jepang, karenaJepang setiap saat sudah harus menyerah; “Dan Sjahrir mendesak Hatta supayaproklamasi Indonesia merdeka segera dilaksanakan, karena Jepang sudah tamatdan sudah tiba waktunya untuk menjadikan situasi Indonesia serevolusionermungkin, demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang antidan pro dengan Jepang.Sementara itu Sjahrir menyiapkan pengikutnya yang bakal berdemonstrasi danbahkan mungkin harus siap menghadapi bala tentara Jepang dalam hal merekaakan menggunakan kekerasan.” Sjahrir telah menyusun teks proklamasi dantelah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan.Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Sjahrir tidak berhak memproklamasikankemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia(PPKI).RengasdengklokPada 15 Agustus, setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut,Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untukmemperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapikantor tersebut kosong.Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, diJalan Imam Bonjol. Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamatatas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerimakonfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokio.Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuanPanitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 malam...

Sisi Lain Jenderal Besar Soedirman Nov12

Sisi Lain Jenderal Besar Soedirman...

Soedirman Bapak Tentara dari Banyumas Ia mungkin telah jadi ikon: sepotong jalan utama dan sebuah universitas negeri telah menggunakan namanya. Raut lelaki tirus itu pernah tertera pada sehelai uang kertas. Di Jakarta, tubuhnya yang ringkih diabadikan dalam bentuk patung setinggi 6,5 meter di atas penyangga 5,5 meter. Menghadap utara, dibalut jas yang kedodoran, ia memberi hormat–entah kepada siapa. Barangkali, hanya sedikit cerita yang kita ingat dari Soedirman–sejumput kenangan dari buku sejarah sekolah menengah. Ia panglima tentara yang pertama, orang yang keras hati. Ia pernah bergerilya dalam gering yang akut–tuberkulosis menggerogoti paru-parunya. Sejak ia remaja, orang segan kepadanya: karena alim, dia dijuluki kaji. Ia aktif dalam gerakan Hizbul Wathan–kepanduan di bawah payung Muhammadiyah. Dipilih melalui pemungutan suara sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat/Angkatan Perang Republik Indonesia pada 12 November 1945, Soedirman figur yang sulit dilewatkan begitu saja. Ia mungkin sudah ditakdirkan memimpin tentara. Dengan banyak pengalaman, tak sulit baginya terpilih sebagai panglima dalam tiga tahap pengumpulan suara. Dia menyisihkan calon-calon lain, termasuk Oerip Soemohardjo–kandidat lain yang mengenyam pendidikan militer Belanda. Soedirman, Sang Jenderal Klenik Kepercayaan dan kegemaran Soedirman pada supranatural tak hanya terjadi saat gerilya, tapi juga dalam diplomasi formal dengan Belanda. Muhammad Roem punya kisah menarik tentang klenik Soedirman. Syahdan, suatu pagi beberapa hari menjelang perundingan Renville di Yogyakarta pada 17 Januari 1948, Roem dipanggil Presiden Sukarno. Presiden meminta Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan itu menemui Soedirman di rumahnya. “Sebagai ketua delegasi, jiwa Saudara harus diperkuat,” kata Presiden. “Temuilah segera Panglima Soedirman.” Meski awalnya menolak, Roem, yang tak mengerti urusan klenik, menuruti saran itu. Di rumahnya, Soedirman sudah menunggu. Sang Panglima ditemani seorang anak muda yang ia kenalkan kepada Roem sebagai “orang pintar”. Rupanya, anak muda yang dikenal Roem tak punya pekerjaan tetap itu yang akan “memperkuat jiwa” Menteri Dalam Negeri ini. Dukun itu...