Pencarian Sersan Satiman, Pahlawan yang 43 tahun lebih terlantar...

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya,” begitu semboyan yang sayup-sayup terdengar ditelinga kita. Titik merah adalah posisi makam ditenggah hutan sengon Berawal dari cerita seorang teman tentang kakek buyutnya yang lengkap dengan data-data SKEP Purnawirawan dan skep pedjoang kemerdekaan. Kami membuat team planning rescue restoration, 3 bulan kami mencari posisi makam dengan memakai drone dji mavic pro, karena makam ada ditenggah hutan senggon dan ditengah pusara sengaja ditanami pohon sengon sehingga terbelah dua selain itu satu-satunya jalur menuju tempat pusara ditutup dengan sampah dan got jujur kami kesulitan ketika menuju Pusara karena sampah basah. Para Pamong desa juga sulit untuk diajak komunikasi, ketika kami bertanya buku sejarah tanah dibilang tidak ada. Hanya Pak lurah Heru yang baru mejabat 3 bulan yang bisa diajak komunikasi namun sayang pengetahuan beliau tentang kondisi wilayah kekuasaannya minim. Namun demikian Koordinasi dengan Bapak kepala desa ini jadi sangat penting ketika beliau bisa memaastikan bahwa tanah pusara tersebut betul makam Sersan Satiman. Terlihat pusara terbelah dan terangkat Perjuangan pun dimulai kami menemui yang mengakui pemilik tanah yang Tempat makam Sersan Satiman tersebut, dia mengaku sebagai keturunan Sersan Satiman, padahal Sersan Satiman beranak Putri dan bercucu dengan domisili di Gondanglegi. sambil bertamu kami awali dengan pertanyaan sertifikat tanah, petok sampai akte jual beli, semuanya TIDAK ADA!.Dari sini insting saya selaku lulusan hukum tahu bahwa ini ada yang tidak beres, dan tertuju lebih kepada perampasan tanah. Yang lebih parah lagi ketika saya melakukan indentifikasi lapangan tentang sejarah tanah terhadap para sesepuh desa yang bertempat tinggal disekitar tanah bapak Satiman, tanah bapak satiman ini tidak hanya dirampas tapi juga DISERTIFIKASI WAKTU ADA PROGRAM SERTIFIKASI GRATIS lalu dijual oleh oknum RW setempat Melihat realitas ini saya komunikasi dengan cucu Sersan Satiman H. Farhat. Beliau hanya minta tanah milik Sersan Satiman bisa...

Budaya Seks Dalam Budaya Priyayi dan Nyai Jawa...

Tidak pagi tidak siang semilir angin tidak pernah lelah menerpa pucuk dedaunan pohon sawo yang konon berjumlah 77 batang di halaman muka Keraton Kasunanan Surakarta itu. Dedaunan melambai pelan bagai menciptakan tarian bedaya yang halus dan sakral di hadapan para bangsawan Jawa sehingga membuahkan kesejukan dan ketenangan. Kali ini ketenangan itu terusik oleh kabar tak sedap. Orang yang duduk di singgasana diduga terlibat skandal seks dengan remaja, usianya belum genap 17 tahun. Masyarakat luar yang masih peduli dengan nasib keraton pun riuh membicarakannya, sesekali mengelus dada, juga geleng kepala. Seks dalam kekuasaan Jawa memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Dalam lintasan sejarah Keraton Kasunana Surakarta cerita tersebut mudah diperoleh. Ketika kasus ini menyembul ke permukaan, segera saja pelaku yang tertuduh memperoleh cibiran banyak pihak karena itu dipahami sebagai tindakan yang hanya mengedepankan nafsu birahi, bukan ritual seperti penguasa tempo doeloe. Masyarakat dewasa ini tiada lagi percaya bahwa seks adalah bagian dari simbol kekuasaan dan simbol pusaka sebagaimana yang dikerjakan oleh Kertanegara, Ken Arok, hingga Paku Buwono X. Raja Kertanegara sengaja berhubungan seks sepuas mungkin melalui jalan tantrisme demi mencari jimat atau kekuatan gaib agar negerinya makmur dan rakyat panen raya. Ken Arok juga berjuang mati-matian untuk mengawini Ken Dedes. Dalam organ kelamin perempuan tersebut terpancar cahaya yang dimaknai sebagai sumber kekuatan. Dan, diyakini mampu mengantarkan mantan berandal itu menjadi penguasa yang hebat di bumi Singasari. Seks yang dilakukan para pemegang tahta di zaman itu justru disanjung, dipuja serta dilihat sebagai ritual yang penuh mistik. Hal ini terbukti dengan artefak Candi Sukuh dan Cetho yang begitu vulgar menampilkan alat kelamin yang populer dengan sebutan lingga-yoni sebagai lambang kesuburan. Orang sekarang jika melongok benda di dua candi di wilayah Karanganyar itu mungkin akan menilai secara moral bahwa nenek moyang kita doyan pornografi. Bahkan, dalam tradisi Mataram Islam era Sultan...

Pahlawan Revolusi Indonesia Yang Terlupakan...

Perang kemerdekaan diwarnai dengan berbagai kisah heroik dan diplomasi panjang hingga mendapatkan kemerdekaan berdaulat secara de facto dan de Jure. Aku hanya setetes dari laut yang mengarus semakin besar menuju kebebasan. Orang Indonesia boleh saja melupakan segala sesuatu mengenai diriku. Mengapa tidak. Salah satu kata-kata Ktut Tantri yang di kutip dari buku 10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?, oleh Batara R. Hutagalung Oktober 2001. Sampai sekarang namanya tidak masuk dalam daftar pahlawan Indonesia. Sama seperti apa yang ia katakan kepada belanda saat menawarkan uang dalam jumlah besar untuk tidak membantu Indonesia saat berada di Australia. Nama asli dari Ktut Tantri adalah Muriel Stuart Walker, yang menarik di sini Tantri sendiri lahir di Inggris Glasglow. Ia pindah ke amerika dan menjadi warga negara Amerika. Saat berada di Amerika Ia menonton film Bali: The last Paradise. Setelah menonton film tersebut ia memantapkan hatinya untuk pergi menju Bali. Setelah beberapa waktu ia benar-benar pergi ke Bali untuk pertama kalinya. Dengan mengendarai Mobil yang ia beli di Batavia, Tantri bersumpah ia akan turun saat bensinya habis dan disanalah ia akan tinggal. Mobilnya berhenti di depan sebuah Istana Raja yang dianggapnya sebuah Pura. Setelah memasuki tempat tersebut malah bertemu dengan Raja wilayah tersebut dan diangkatlah menjadi anak ke 4 yang diberi nama Ktut Tantri. Ia mulai aktif dalam politik di Indonesia setelah sering berdiskusi dengan Nura, anak pertama dari Raja yang menangngkatnya. Nura sendiri adalah lulusan Leiden dan Heidelberg Jerman. Sepak terjang Tantri sendiri sudah mulai di kenal, salah satu peristiwa yang membuatnya terkenal adalah peristiwa 10 Novermber 1945. Pertempuran-pertempuran yang ia siarkan di radio membuatnya di juluki sebagai Surabaya Sue. Bukan hanya peristiwa tersebut dalam membantu kemerdekaan di Indonesia, saat pendudukan jepang ia juga sudah pernah merasakan dibalik jeruji jepang. Saat peristiwa pemindahan ibu Kota ke Jogja...

Maria Ullfah

Maria Ullfah adalah aktivis gerakan perempuan pertama yang menjadi menteri, sekaligus Sarjana Hukum perempuan Indonesia pertama lulusan Universitas Leiden, serta Perintis Undang-undang Perkawinan. Beliau lahir di Serang, Banten 18 Agustus 1911. Ayahnya bernama RAA. Mohammad Achmad seorang Bupati Kuningan, setelah sebelumnya sempat bertugas sebagai amtenar di bеbеrара wilаyаh. Ibu kandungnya, RA. Hadidjah Djajadiningrat, anak kelima Raden Bagoes Djajawinata, Wedana Kramatwatu dan Bupati Serang. Masa kecil Ullfah dilewati di Serang, Banten. Ullfah mulai masuk sekolah dasar di Rangkasbitung, mengikuti ayahnya yang bekerja di kota yang menjadi latar belakang kisah roman Max Havelaar itu. Tak lama tinggal di Rangkasbitung, Mohammad Achmad pindah ke Batavia, di mana dia bertugas sebagai Patih di Meester (kini Jatinegara), yang dulu masih termasuk wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat. Ullfah ikut pindah ke Batavia. Pada 1929 RAA. Mohammad Achmad memperoleh kesempatan belajar perkoperasian di Denhaag, Belanda. Dia mengajak ketiga anaknya. Kebetulan saat itu tiba waktunya bagi Ullfah untuk melanjutkan pendidikannya. Atas izin ayahnya dan pilihan Ullfah sendiri, dia mendaftar ke Fakultas Hukum di Universiteit Leiden. Kelak Ullfah menjadi sarjana hukum perempuan pertama dari Indonesia. Aktivitasnya di dalam dunia pergerakan politik dimulai saat dia bertemu Sjahrir, tokoh sosialis terkemuka yang kelak jadi perdana menteri. Melalui Sjahrir, Ullfah dikenalkan kepada kalangan sosialis Belanda dan diajak ke pertemuan-pertemuan kaum sosialis di sana. Ketika kembali ke Indonesia, Ullfah mengajar di Perguruan Rakyat dan di Perguruan Muhammadiyah. Dia mengampu tiga mata pelajaran: sejarah, tatanegara dan bahasa Jerman. Sembari mengajar, dia juga menceburkan dirinya ke dalam aktivitas pergerakan perempuan Indonesia yang pada kurun tahun 1930-an menemukan gairahnya untuk menuntut kesetaraan di tengah masyarakat. Ullfah menjadi salah satu pendiri organisasi Isteri Indonesia. Organisasi itu menerbitkan majalah bulanannya sendiri yang juga bernama sama dengan nama organisasinya. Dia jadi salah satu kolumnis tetap di majalah tersebut dan kerap mencurahkan pikiran-pikirannya tentang...

Wanita Indonesia Dalam Medan tempur dan Medan Pikir...

Berkibarlah benderaku Lambang suci gagah perwira Di seluruh pantai Indonesia Kau tetap pujaan bangsa Siapa berani menurunkan engkau Serentak rakyatmu membela… Pada 1946, Saridjah Niung (1908-1993), yang kemudian dikenal dengan nama Ibu Soed, mengubah lagu itu, yang menggambarkan ketakjubkannya atas semangat rakyat Indonesia dalam mengibarkan Bendera Merah-Putih di berbagai penjuru Nusantara. Perkenalan terhadap lagu “Berkibarlah Benderaku” ini dimuat di Mingguan Merdeka pada 17 Mei 1946. Pada Mingguan Merdeka edisi 31 Mei 1946, Saridjah juga menulis sebuah artikel di rubrik Taman Kanak-Kanak, berjudul “Apa Jang Akan Dipilih Amir?” Dalam artikel itu dikisahkan tiga bersaudara Daud,Umar, dan Amir yang paling bungsu. Kedua kakak Amir bersekolah di luar kota dan suatu ketika kembali ke desa. Amir diajak berjalan ingin melihat sebuah jembatan. “Nah, Amir, kau lihat djembatan jang besar itoe siapa jang memboeatnja?” “Koeli-koeli kita, Kak?” “Betoel, Mir, jang bekerdja memang orang-orang kita, tapi siapa jang memikirkan boeat bangoenannja? Agar mendjadi seboah gambar jang dapat diboet jadi bangonenan? Boekan bangsa kita, Mir, tetapi bangsa lain, seorang insinjoer bangoenan jang memboet roemah dan djembatan.” Lewat artikel itu Ibu Soed menyisipkan pesan agar anak-anak menuntut ilmu dan bersekolah setinggi mungkin untuk mencapai cita-citanya, memajukan Indonesia agar tidak tidak tertinggal dengan bangsa lain. Ibu Soed memandang perjuangan kemerdekaan bukan hanya dengan perjuangan bersenjata, tetapi juga perjuangan agar anak-anak bangsa peduli dengan pendidikan agar tidak bisa dijajah lagi. Belakangan, Ibu Soed kemudian dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak.   Sementara itu, Siti Danilah Salim (Saudara dari tokoh perjuangan kemerdekaan Haji Agus Salim) mengungkapkan pandangannya tentang Perang Kemerdekaan dalam Merdeka edisi 17 Mei 1946. Dia mengatakan, wanita (dia pakai kata wanita) juga sanggup berjasa berbakti bagi Nusa dan Bangsa, baik pada barisan depan maupun barisan belakang. Namun, dia juga mengkritik perang itu sendiri, yang ia sebut sebagai akibat keserakahan kaum laki-laki. “Djika sebagai...

Jejak Laskar Hizboellah...

Tidak bisa pungkiri bahwa Resolusi Jihad 1945 yang dirumuskan oleh para kiai dahulu dalam menjaga dan mengawal kemerdekaan Indonesia merupakan ‘ruh’ dari Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada 22 Oktober setiap tahunnya. Ruh inilah yang menjadi semangat bagi kita –tidak hanya bagi kalangan santri saja— untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama<> bukan hanya sebagai jalan meraih keselamatan bagi diri sendiri dan kelompok, juga sebagai landasan dalam membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman. Dalam sejarahnya, ketetapan tentang Resolusi Jihad bukan tanpa pertimbangan. Apalagi yang terlibat dalam Resolusi Jihad, besar kemungkinan memang elemen masyarakat yang berada dalam atau dekat dengan kalangan pesantren yang diidentikkan dengan sebutan “santri”. Munculnya Resolusi Jihad tentunya didukung oleh situasi dan kondisi pada saat itu. Karena bisa timbul pertanyaan, kenapa Resolusi Jihad tidak dikeluarkan ketika sebelum kemerdekaan yakni masa-masa kolonial Belanda, termasuk juga Jepang? Barangkali para kiai dahulu mempertimbangkan kemampuan militer yang dimiliki oleh masyarakat (santri). Dengan ditetapkannya Resolusi Jihad, Laskar Hizbullah langsung melaksanakan tugasnya sebagaimana seruan untuk berjihad melawan Sekutu yang hendak menduduki kembali bangsa Indonesia yang 2 bulan sebelumnya telah memproklamasikan kemerdekaan. Laskar Hizbullah merupakan barisan pasukan militer yang terdiri dari kiai, santri serta kalangan masyarakat lainnya. Tidak bisa dipungkiri juga, hadirnya Laskar Hizbullah merupakan bentuk apresiasi –selain juga kepentingan memperkuat militer Jepang dalam menghadapi Sekutu— pemerintah Jepang terhadap kalangan pesantren. Jepang menggusur Hindia Belanda Djajusman (1978) mencatat, sebagaimana dikutip oleh Bizawie,  meletusnya Perang Dunia II pada tahun 1940 yang dimulai dari wilayah Eropa membawa dampak yang signifikan terhadap Indonesia yang pada saat itu masih dalam genggaman pemerintahan Hindia Belanda. Jepang menjadi kekuatan baru di Asia, lantaran dalam peperangan pada tahun 1908 berhasil mengalahkan Uni Soviet. Kekuatan militer Jepang semakin diperhitungkan setelah armada angkatan laut mereka pada 8 Desember 1941 berhasil membombardir pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di...