Budaya Seks Priyayi (2)...

Selain Raja Keraton Jogja, yang juga Gubernur DIJ, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, LSM Rifka Annisa juga mendorong penyelesaian kasus asusila abdi dalem Keraton Jogja secara hukum. Keraton Jogja sendiri sudah mencopot sang abdi dalem dari tugasnya.Staf Divisi Internal Rifka Annisa Sabar Haryadi mengaku, belum mendapat laporan dari korban pelecehan seksual di Alun-alun Utara Minggu (10/11) malam. Menurut dia, korban kekerasan seksual terkadang tak ingin atau takut mengangkat kasusnya ke ranah hukum. Karena korban belum siap menanggung segala konsekuensi yang akan menimpanya.“Misalnya jadi disalahkan gara-gara pakaian, penampilan, atau karena keluar malam,” jelasnya ditemui di kantornya, Selasa (12/11).Ditambah lagi dengan adanya stigma negatif yang disematkan masyarakat pada korban kekerasan seksual. Korban terkadang malah disalahkan oleh masyarakat ketika mereka melapor.Beberapa klien yang didampingi Rifka Annisa sendiri ada yang tidak mengambil langkah hukum. “Selain memberi pendampingan hukum kami juga memberikan pendampingan psikologis untuk pemulihan korban,” imbuhnya.Menurutnya, kasus pelecehan seksual yang dilakukan abdi dalem Keraton bisa diproses ke ranah hukum. Dia mencontohkan kasus pelecehan seksual di Gunungkidul beberapa waktu lalu.“Dulu ada kasus ekshibisionis, seorang pria memamerkan kemaluannya di publik. Itu bisa diproses hukum,” jelasnya.Apalagi bila pelaku sudah diketahui, korban tinggal mencari dukungan untuk melaporkan kasus ini. “Jadi bergantung dengan korbannya, mau melapor secara hukum atau tidak,” tambahnya.Untuk pembuktian kasus pelecehan seksual bisa dibuatkan hasil pemeriksaan psikologis, berbeda dengan kasus penganiayaan yang dibuktikan dengan hasil visum pada fisik. Selama Januari-September, Rifka Annisa menerima 271 laporan kasus kekerasan. Sedangkan kasus pelecehan seksual terdapat 29 kasus.Sedang Pengageng Kawedanan Hageng Panitraputra Keraton Jogja Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono memastikan adanya sanksi tegas. Saat ini pihaknya tengah menunggu adanya pemeriksaan oleh kepolisian.“Sudah diurus itu (abdi dalem bertindak pelecehan seksual, red). Sanksi tegas pasti ada dari Keraton. Ya kami mengikuti saja hukum yang berlaku di Indonesia,” tegasnya saat ditemui di Bale Raos.Gusti Condro,...

GP Ansor soal Menag: Jokowi Serius Berantas Radikalisme...

Gerakan Pemuda (GP) Ansor menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin serius menghadapi radikalisme dalam pembentukan Kabinet Indonesia Maju. Termasuk penugasan khusus terhadap Menteri Agama yang kini dijabat kalangan militer, Jenderal Purnawirawan TNI Fachrul Razi. Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan pemberian tugas khusus kepada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Menteri Agama (Menag), Menteri Pertahanan (Menhan), serta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) memperlihatkan bahwa pemerintahan Jokowi lima tahun ke depan serius ingin mengatasi perkembangan radikalisme di Indonesia. “Jokowi saya lihat serius untuk mengatasi berkembangnya radikalisme atau merebaknya ideologi radikal. Ini terlihat dengan ditugaskannya secara khusus Menko Polhukam, Menhan, Mendagri dan Menag untuk ikut menangani masalah radikalisme di masyarakat, khususnya di lingkup kementerian masing-masing,” kata sosok yang akrab disapa Gus Yaqut itu dalam keterangan tertulis, Jumat (25/10). Ia berterima kasih atas langkah ini. Menurutnya, penyebaran radikalisme di Indonesia sudah sangat mencemaskan dan membutuhkan keseriusan pemerintah dalam menghadapinya. Gus Yaqut melanjutkan, keseriusan pemerintah menghadapi radikalisme ini sekaligus meringankan tugas GP Ansor yang selama ini memerangi kelompok radikal. “Karena negara sudah memastikan menangani serius masalah ini, maka tugas kami kini menjadi ringan,” ujar Gus Yaqut. Dia menambahkan, GP Ansor akan merespons keseriusan pemerintah menghadapi radikalisme dengan menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas) dalam waktu dekat guna melakukan konsolidasi, penguatan kaderisasi, dan kemandirian organisasi. “Saya meminta kini saatnya kembali melakukan konsolidasi, kaderisasi, dan mempercepat kemandirian organisasi,” ucap dia. Sebelumnya, Jokowi menyatakan alasan memilih mantan Wakil Panglima TNI Jenderal (Purnawirawan) Fachrul Rozi di kursi Menag ialah lantaran ingin permasalahan radikalisme dan intoleransi bisa benar-benar diatasi secara kongkret oleh Kemenag. “Tapi termasuk di dalamnya perbaikan kualitas pelayanan haji,” kata Jokowi kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/10). Mantan gubernur DKI Jakarta itu berharap Fachrul dapat berbicara banyak terkait perdamaian hingga soal toleransi di antara masyarakat. Di...

Fakta Bripda Nesti, Polwan yang Terpapar Paham Radikal ISIS...

Jakarta – Seorang polisi wanita (Polwan) bernama Bripda Nesti Ode Samili (NOS) diamankan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri di Solo dikarenakan terindikasi terpapar paham ISIS. Bripda Nesti diduga menyebarkan paham radikal ke rekan kerjanya sesama polisi dan polwan. Sejauh apa paham tersebut mempengaruhi tingkah lakunya, pemeriksaan terus dilakukan tim Densus 88. “Kita masih dalami apa dia sudah terafiliasi kepada jaringan terorisme yang di dalam negeri. Apa dia juga sudah menularkan paham-paham itu ke teman-teman di kepolisian yang lain,” ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Mabes Polri. Sebelum diamankan, Polwan ini sehari-hari bertugas di Satuan Logistik Polda Maluku Utara. Akibat kasus yang menjeratnya, Bripda Nesti kini terancam dipecat dengan tidak hormat dari kesatuannya. “Yang bersangkutan secara aturan di internal kami sedang menuju sidang kode etik dan nanti akan direkomendasikan di PTDH,” tegas Asep, Kamis kemarin. Berikut fakta-fakta terkait Bripda Nesti Ode Samili, anggota Polwan yang diduga terpapar paham ISIS: Polwan yang bertugas di Polda Maluku Utara itu kini sedang dalam penanganan Densus 88 Anti Teror. NOS ditangkap di Solo. Menurut keterangan yang didapat oleh pihak kepolisian, Bripda Nesti diduga sudah terpapar paham radikalisme sejak 1 tahun yang lalu. Hal ini diungkap oleh Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Mabes Polri. Berdasar catatan Polri, ini kedua kalinya polwan terduga teroris itu berurusan dengan Densus 88 Antiteror. “Seperti kita ketahui bahwa yang bersangkutan diamankan oleh pihak kepolisian karena meninggalkan tugas atau desersi, setelah itu dilakukan penindakan. Dalam hal ini penegakan hukum disiplin terhadap yang bersangkutan. Setelah selesai lalu dilakukan pembinaan. Namun,rupanya selama dalam pembinaan tersebut dia terpapar kembali,” ungkap Asep. Asep menjelaskan, Densus 88 sedang mendalami keterangan dari Bripda Nesti Ode Samili. Beberapa informasi telah dikantongi. “Sementara yang sudah dapat, dia...

Terror Terhadap WALHI...

Nama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) belakangan ini tengah ‘harum’ di panggung nasional sehubungan dengan terjadinya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membara di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Merekalah yang tercatat paling vokal menyuarakan kritik dan mendorong pemerintahan, kali ini giliran pemerintahan Presiden Jokowi, untuk lebih serius dalam menangani dan mencegah bencana karhutla yang waktu ke waktu terus terulang. Dengan gigih mereka mendorong pemerintah dan aparat TNI-Polri untuk lebih berani masuk mengusut dan memejahijaukan korporasi-korporasi yang bukan rahasia umum lagi ada di belakang bencana tersebut. Sudah barang tentu banyak telinga yang dibuat ‘panas’ olehnya, entah siapa pun itu. Bahkan mungkin  bukan cuma ‘panas’, bisa jadi gusar dan dendam. Bukan maksud hati berspekulasi, tapi coba tengok kejadian akitivis Walhi Sumatera Utara Golfried Siregar tiga hari lalu, setelah sebelumnya sempat dikabarkan hilang sejak Rabu 2 Oktober 2019. Golfrid sebelumnya ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di flyover Simpang Pos Jalan Jamin Ginting, Medan, Kamis (3/10), sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Ia ditemukan oleh penarik becak yang kebetulan melintas di kawasan tersebut dan segera dilarikan ke RS Mitra Sejati lalu diarahkan untuk ditangani ke RSUP Haji Adam Malik. Pihak kepolisian menyatakan Golfrid menjadi korban kecelakaan tabrakan lalu lintas. Namun tentu saja peristiwa itu penuh kejanggalan dimana kepala korban mengalami luka serius layaknya mendapatkan pukulan keras dengan senjata tumpul. Besar kemungkinan menjadi korban kekerasan oleh oknum dengan motivasi tertentu. Asumsi ini tentu saja sangat masuk akal. Golfrid Siregar adalah salah seorang aktivis lingkungan yang paling vokal menyuarakan penentangan terhadap pembangunan mega proyek PLTA Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebelumnya, di Aceh rumah salah seorang jurnalis serambinews.com, Asnawi Luwi, diduga sengaja dibakar oleh pihak tak dikenal. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Asnawi mengaku...

Keluarga Sutowo Contoh Konspirasi Paling Sadis yang Sukses di Jaman Orba...

Nama Adiguna Sutowo (40-an tahun) mencuat seiring kasus penembakan yang diduga dilakukannya di Club and Lounge Fluid Hotel Hilton, Jakarta. Siapa Adiguna?Dibanding Pontjo Sutowo, abangnya, nama Adiguna masih kalah pamor. Bahkan selama ini Adiguna lebih dikenal sebagai pereli nasional. Anaknya, (alm) Adri Sutowo pun menitis darah ini. Nama Adiguna memang tak bisa lepas dari Ibnu Sutowo, eks Dirut PT Pertamina dan pensiunan jenderal bintang tiga era Soeharto. Dari perkimpoiannya dengan Zaleha binti Syafe’ie, yang dinikahinya pada 12 September 1943, Ibnu mendapatkan 7 anak. Mereka adalah Nuraini Zaitun Kamarukmi Luntungan, Endang Utari Mokodompit, Widarti, Pontjo Nugroho Susilo, Sri Hartati Wahyuningsih, Handara, dan Adiguna. Seperti saudara-saudaranya yang lain, si bungsu Adiguna pun berkecimpung dalam bisnis. Dia tercatat sebagai bos perusahaan farmasi PT Suntri Sepuri. Perusahaan yang didirikan pada 1998 ini memproduksi tablet, kapsul, sirup dan suspensi, sirup kering/serbuk injeksi beta laktam. Dan membicarakan bisnis Adiguna, mau tak mau harus membicarakan bisnis keluarga Ibnu Sutowo. Pasalnya, bisnis Adiguna dibangun bersama-sama dengan anggota keluarganya yang lain. Keluarga Ibnu Sutowo ketika Orba masih berkuasa, mempunyai sedikitnya 20 perusahaan. Ini termasuk PT Adiguna Shipyard (galangan kapal, pengadaan fiber glass kapal) dan PT Adiguna Mesin Tani (agicultural). Keluarga ini juga pemilik PT Indobuild Co (real estate, hotel) yang menguasai hak pengelolaan lahan di seputar Senayan – lokasi hotel, apartemen dan convention center. Keluarga Ibnu Sutowo lebih dikenal lewat konglomerasi Grup Nugra Santana (bursa saham, pemasaran, manajemen properti, investasi bangunan). Di bawah grup inilah keluarga Sutowo menguasai penjualan dan pemasaran operasional 5 hotel kelas atas: Jakarta Hilton International Hotel, Lagoon Tower Jakarta Hilton International, The Hilton Residence, Patra Surabaya Hilton International dan Bali Hilton International. Ekspansi besar-besaran dimotori Pontjo Sutowo. Tapi pada 1997, kibaran bisnis keluarga Ibnu Sutowo melorot. Majalah Swa edisi November 2004 lalu menulis, tragedi Bank Pacific yang dimotori Endang...

Ibnu Sutowo Gurita Orba Yang Pendiam...

Karier Ibnu Sutowo sebagai Direktur Pertamina tamat setelah Presiden Soeharto mencopotnya. Langkah ini diambil karena perusahaan minyak milik negara itu berhutang hingga USD 10,5 miliar pada tahun 1975. Bau tengik korupsi pun merebak.Permainan kotor pensiunan jenderal bintang TNI AD itu pun terendus. Lewat setumpuk dokumen yang dimiliki, Harian Indonesia Raya mewartakan berita penyelewengan di Pertamina secara konsisten selama empat tahun. Rupanya ini cukup membuat Ibnu gerah.Kala pada awal tahun 1970-an, Atmakusumah menjabat sebagai Redaktur Pelaksana di koran tersebut. Menurutnya, Ibnu tak pernah bersedia diwawancara wartawan Indonesia Raya. “Saat konferensi pers pun Ibnu tidak banyak bicara. Ibnu justru terkesan hati-hati,” ujar Atmakusumah.Pada 30 Januari 1970, Indonesia Raya memberitakan simpanan Ibnu Sutowo mencapai Rp 90,48 miliar (kurs rupiah saat itu Rp 400/dolar), jumlah yang sangat fantastis. Harian yang akhirnya dibredel itu juga melaporkan kerugian negara akibat kerjasama Ibnu Sutowo dengan pihak Jepang mencapai USD 1.554.590,28.Meski begitu, menurut Atmakusumah, kehidupan Ibnu dan keluarganya jauh dari hura-hura. Bahkan, Ibnu yang sangat dekat dengan keluarga Cendana tidak pernah tampil menunjukkan gelimangan hartanya di Tanah Air. “Gaya hidupnya tidak mencolok. Bahkan tidak kelihatan seperti koruptor sekarang,” kata Atmakusumah.Setelah lengser Ibnu tak pernah terjerat hukum. Ali Said, Jaksa Agung kala itu menolak mentah-mentah dokumen penyimpangan di Pertamina yang ditawarkan oleh Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Mochtar Lubis. Sampai akhir hayat Ibnu pun tetap bisa hidup tenang. “Dia tidak memiliki banyak musuh, karena dia (Ibnu) orangnya royal,” tutur Atmakusumah yang menduga antara Ibnu dan Soeharto sama-sama memiliki kartu truf.Begitu kuatnya Ibnu, Atmakusumah melihat karena Ibnu memiliki jaringan kuat di angkatan darat. Adalah Kepala Staf Angkatan Darat AH Nasution yang memberi perintah Ibnu Sutowo mengelola PT Tambang Minyak Sumatera Utara (PT Permina). Baru pada tahun 1968, perusahaan ini bergabung dengan perusahaan minyak milik negara lain hingga menjadi PT Pertamina. Ibnu menyeret Pertamina menuju bisnis lain di luar bidang minyak. Mulai dari hotel, restoran, asuransi, biro perjalanan. Ternyata hasilnya anjlok. “Ibnu Sutomo merupakan orang yang...