Tugas Anggota GM FKPPI saat ini adalah menjadi Mata Dan Telinga Aparat Keamanan...

Seluruh jajaran Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (GM FKPPI) diminta membantu aparat keamanan dalam meredam kemungkinan-kemungkinan terjadinya tindakan teror. Imbauan ini disampaikan Pengurus Pusat Generasi Muda FKPPI melalui rilis yang disebarkan kepada awak media. “Seluruh kader Generasi Muda FKPPI harus menjadi mata dan telinga aparat keamanan terhadap potensi hidupnya jaringan teroris yang dapat saja tinggal dan bekerja di sekitar lingkungan para kader,” kata Sekretaris Jenderal Generasi Muda FKPPI, Nurseto BS. Sementara itu, Ketua Umum Generasi Muda FKPPI, Hans Silalahi mengatakan, pihaknya berharap agar Pemerintah dan aparat terkait untuk segera menuntaskan permasalahan terorisme sampai ke akarnya. “Kita mengapresiasi atas tindakan cepat yang telah diambil oleh Pemerintah dan Polri dalam meredam kemungkinan-kemungkinan terjadinya teror lanjutan. Namun tindakan tersebut harus dilanjutkan dengan memberantas teroris sampai ke akarnya,” ungkap dia. “Permasalahan terorisme sudah terlalu sering terjadi dan apabila masalah ini tidak diselesaikan secara tuntas, akan memecah belah persatuan Bangsa, serta menggangu stabilitas Ekonomi, Politik dan Keamanan,” tambah Hans. Di kesempatan yang sama Bendahara Umum Generasi Muda FKPPI, Dwi Rianta Soerbakti meminta seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa, menjadikan NKRI harga mati, dan tidak gentar dengan segala bentuk teror. “Kami mengimbau seluruh kader Generasi Muda FKPPI sebagai ‘Darah Daging’ TNI-Polri dan binaan TNI-Polri untuk tetap waspada dan menjadikan teroris sebagai musuh bersama serta berani melawan segala bentuk teror,” tutup Dwi.   Sumber:...

Maria Ullfah

Maria Ullfah adalah aktivis gerakan perempuan pertama yang menjadi menteri, sekaligus Sarjana Hukum perempuan Indonesia pertama lulusan Universitas Leiden, serta Perintis Undang-undang Perkawinan. Beliau lahir di Serang, Banten 18 Agustus 1911. Ayahnya bernama RAA. Mohammad Achmad seorang Bupati Kuningan, setelah sebelumnya sempat bertugas sebagai amtenar di bеbеrара wilаyаh. Ibu kandungnya, RA. Hadidjah Djajadiningrat, anak kelima Raden Bagoes Djajawinata, Wedana Kramatwatu dan Bupati Serang. Masa kecil Ullfah dilewati di Serang, Banten. Ullfah mulai masuk sekolah dasar di Rangkasbitung, mengikuti ayahnya yang bekerja di kota yang menjadi latar belakang kisah roman Max Havelaar itu. Tak lama tinggal di Rangkasbitung, Mohammad Achmad pindah ke Batavia, di mana dia bertugas sebagai Patih di Meester (kini Jatinegara), yang dulu masih termasuk wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat. Ullfah ikut pindah ke Batavia. Pada 1929 RAA. Mohammad Achmad memperoleh kesempatan belajar perkoperasian di Denhaag, Belanda. Dia mengajak ketiga anaknya. Kebetulan saat itu tiba waktunya bagi Ullfah untuk melanjutkan pendidikannya. Atas izin ayahnya dan pilihan Ullfah sendiri, dia mendaftar ke Fakultas Hukum di Universiteit Leiden. Kelak Ullfah menjadi sarjana hukum perempuan pertama dari Indonesia. Aktivitasnya di dalam dunia pergerakan politik dimulai saat dia bertemu Sjahrir, tokoh sosialis terkemuka yang kelak jadi perdana menteri. Melalui Sjahrir, Ullfah dikenalkan kepada kalangan sosialis Belanda dan diajak ke pertemuan-pertemuan kaum sosialis di sana. Ketika kembali ke Indonesia, Ullfah mengajar di Perguruan Rakyat dan di Perguruan Muhammadiyah. Dia mengampu tiga mata pelajaran: sejarah, tatanegara dan bahasa Jerman. Sembari mengajar, dia juga menceburkan dirinya ke dalam aktivitas pergerakan perempuan Indonesia yang pada kurun tahun 1930-an menemukan gairahnya untuk menuntut kesetaraan di tengah masyarakat. Ullfah menjadi salah satu pendiri organisasi Isteri Indonesia. Organisasi itu menerbitkan majalah bulanannya sendiri yang juga bernama sama dengan nama organisasinya. Dia jadi salah satu kolumnis tetap di majalah tersebut dan kerap mencurahkan pikiran-pikirannya tentang...

Iringan Mobil Presiden Melintas, 4 Polantas Solo Mendahulukan Ambulans Lewat...

Kisah heroik empat anggota Satlantas Polresta Solo terungkap saat melakukan pengamanan rute Presiden Joko Widodo (Jokowi) melintas bersama keluarga di Pertigaan Kerten, RS Panti Waluyo, Solo, pada Sabtu (15/9/2018) malam lalu. Keempat anggota tersebut mendahulukan mobil ambulans yang terjebak kemacetan lalu lintas saat itu. Mereka adalah Ipda Suharto, Aipda Ersan, Bripka Dwi Purnomo dan Briptu Javan Bagas. Ditemui usai apel pagi di Mapolresta Solo, Senin (17/9/2018) pagi, Suharto bercerita. Kala itu sekitar pukul 19.00 WIB dia bersama tiga anggota lain tengah bertugas mengamankan rute presiden. Lantaran bersamaan dengan malam minggu identik dengan kepadatan kendaraan, kemacetan terjadi di persimpangan itu. “Saya melihat ada mobil ambulans yang terjebak di jalur lambat depan RS Panti Waluyo bersama puluhan pengendara lain dari barat” paparnya. Padahal, kata dia, rombongan Presiden sudah mendekat di kawasan The Sunan Hotel, Jl Ahmad Yani, yang berjarak ratusan meter dari persimpangan. Saat itu rombongan Presiden hendak ke Solo Paragon Mall melalui ke Jl Slamet Riyadi. “Tadinya saya stop juga ambulans, karena rangkaian RI1 (presiden) masih di depan Sunan maka ambulans saya jalankan,” paparnya. “Gantian, kendaraan di belakang ambulans saya stop selanjutnya rangkaian RI1 melintas.” Pria yang menjabat sebagai Kasunit 2 Laka Satlantas Polresta Solo itu mengutarakan, tindakannya telah sesuai dengan tugas dan atas dasar kemanusiaan. Terlebih juga, mobil ambulans dari RSUD Pandan Arang Boyolali itu membawa pasien darurat hendak ke RS Kasih Ibu. Adapun tindakan empat polisi lalu lintas itu pun juga mendapat apresiasi dari akun Instagram @mughnyhd_15 yang diunggah di akun @ics_infocegatansolo. “Ada sedikit cerita di balik foto ini. Ambulan ini adalah unit dari RSUD Pandan Arang Boyolali yang membawa pasien emergency yang di dalam organ tubuhnya terdapat paku,cincin, gelang. Perkiraan driver dan perawat sang pasien terkena santet sehingga di dalam tubuhnya terdapat benda benda yang tak lazim. Tp bukan itu yg ingin...

Wanita Indonesia Dalam Medan tempur dan Medan Pikir...

Berkibarlah benderaku Lambang suci gagah perwira Di seluruh pantai Indonesia Kau tetap pujaan bangsa Siapa berani menurunkan engkau Serentak rakyatmu membela… Pada 1946, Saridjah Niung (1908-1993), yang kemudian dikenal dengan nama Ibu Soed, mengubah lagu itu, yang menggambarkan ketakjubkannya atas semangat rakyat Indonesia dalam mengibarkan Bendera Merah-Putih di berbagai penjuru Nusantara. Perkenalan terhadap lagu “Berkibarlah Benderaku” ini dimuat di Mingguan Merdeka pada 17 Mei 1946. Pada Mingguan Merdeka edisi 31 Mei 1946, Saridjah juga menulis sebuah artikel di rubrik Taman Kanak-Kanak, berjudul “Apa Jang Akan Dipilih Amir?” Dalam artikel itu dikisahkan tiga bersaudara Daud,Umar, dan Amir yang paling bungsu. Kedua kakak Amir bersekolah di luar kota dan suatu ketika kembali ke desa. Amir diajak berjalan ingin melihat sebuah jembatan. “Nah, Amir, kau lihat djembatan jang besar itoe siapa jang memboeatnja?” “Koeli-koeli kita, Kak?” “Betoel, Mir, jang bekerdja memang orang-orang kita, tapi siapa jang memikirkan boeat bangoenannja? Agar mendjadi seboah gambar jang dapat diboet jadi bangonenan? Boekan bangsa kita, Mir, tetapi bangsa lain, seorang insinjoer bangoenan jang memboet roemah dan djembatan.” Lewat artikel itu Ibu Soed menyisipkan pesan agar anak-anak menuntut ilmu dan bersekolah setinggi mungkin untuk mencapai cita-citanya, memajukan Indonesia agar tidak tidak tertinggal dengan bangsa lain. Ibu Soed memandang perjuangan kemerdekaan bukan hanya dengan perjuangan bersenjata, tetapi juga perjuangan agar anak-anak bangsa peduli dengan pendidikan agar tidak bisa dijajah lagi. Belakangan, Ibu Soed kemudian dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak.   Sementara itu, Siti Danilah Salim (Saudara dari tokoh perjuangan kemerdekaan Haji Agus Salim) mengungkapkan pandangannya tentang Perang Kemerdekaan dalam Merdeka edisi 17 Mei 1946. Dia mengatakan, wanita (dia pakai kata wanita) juga sanggup berjasa berbakti bagi Nusa dan Bangsa, baik pada barisan depan maupun barisan belakang. Namun, dia juga mengkritik perang itu sendiri, yang ia sebut sebagai akibat keserakahan kaum laki-laki. “Djika sebagai...

Jejak Laskar Hizboellah...

Tidak bisa pungkiri bahwa Resolusi Jihad 1945 yang dirumuskan oleh para kiai dahulu dalam menjaga dan mengawal kemerdekaan Indonesia merupakan ‘ruh’ dari Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada 22 Oktober setiap tahunnya. Ruh inilah yang menjadi semangat bagi kita –tidak hanya bagi kalangan santri saja— untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama<> bukan hanya sebagai jalan meraih keselamatan bagi diri sendiri dan kelompok, juga sebagai landasan dalam membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman. Dalam sejarahnya, ketetapan tentang Resolusi Jihad bukan tanpa pertimbangan. Apalagi yang terlibat dalam Resolusi Jihad, besar kemungkinan memang elemen masyarakat yang berada dalam atau dekat dengan kalangan pesantren yang diidentikkan dengan sebutan “santri”. Munculnya Resolusi Jihad tentunya didukung oleh situasi dan kondisi pada saat itu. Karena bisa timbul pertanyaan, kenapa Resolusi Jihad tidak dikeluarkan ketika sebelum kemerdekaan yakni masa-masa kolonial Belanda, termasuk juga Jepang? Barangkali para kiai dahulu mempertimbangkan kemampuan militer yang dimiliki oleh masyarakat (santri). Dengan ditetapkannya Resolusi Jihad, Laskar Hizbullah langsung melaksanakan tugasnya sebagaimana seruan untuk berjihad melawan Sekutu yang hendak menduduki kembali bangsa Indonesia yang 2 bulan sebelumnya telah memproklamasikan kemerdekaan. Laskar Hizbullah merupakan barisan pasukan militer yang terdiri dari kiai, santri serta kalangan masyarakat lainnya. Tidak bisa dipungkiri juga, hadirnya Laskar Hizbullah merupakan bentuk apresiasi –selain juga kepentingan memperkuat militer Jepang dalam menghadapi Sekutu— pemerintah Jepang terhadap kalangan pesantren. Jepang menggusur Hindia Belanda Djajusman (1978) mencatat, sebagaimana dikutip oleh Bizawie,  meletusnya Perang Dunia II pada tahun 1940 yang dimulai dari wilayah Eropa membawa dampak yang signifikan terhadap Indonesia yang pada saat itu masih dalam genggaman pemerintahan Hindia Belanda. Jepang menjadi kekuatan baru di Asia, lantaran dalam peperangan pada tahun 1908 berhasil mengalahkan Uni Soviet. Kekuatan militer Jepang semakin diperhitungkan setelah armada angkatan laut mereka pada 8 Desember 1941 berhasil membombardir pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di...